Hewan Endemik di Sulawesi

Posted: March 18, 2012 in Biology, knowledge, Vertebrata

nah, gue mau share tugas yang udah bikin gue stress setengah mati di malam hari ini… tugas yang bikin gue ga bisa tidur.. tugas yang membagi perhatian gue antara Jesicca yang muncul di MV baru shinee.. yang bikin stess gue makin nambah……….. nah gue cuma share pic. na dikit jadi kalo masih mau gambart.. kalian googling aja ndiri.. oke..ūüėÄ..

Burung Anis Punggung Merah

 

Red-backed Thrush Zoothera erythronota (Sclater, 1859)

Deskripsi

Berukuran sedang (19 ‚Äď 21 cm). Tubuh bagian atas dari mahkota sampai tunggir merah-kadru; sayap hitam dengan dua garis putih yang lebar; pada muka terdapat noktah putih di depan dan belakang mata; tenggorokan dan dada hitam; perut putih berloreng hitam. Sub-spesies kabaena mirip dengan sub-spesies utama, tetapi bagian mahkota dan punggung hitam.

Penyebaran

Endemik Sulawesi atau hanya dapat ditemukan hidup di Pulau Sulawesi.
terdiri atas 2 sub-spesies, dengan daerah persebaran:

  • erythronota (P. L. Sclater, 1859) ‚Äď Sulawesi (kecuali semenanjung timur) dan P. Buton.
  • kabaena Robinson-Dean et al., 2002 ‚Äď P. Kabaena I, Sulawesi Tenggara.

 

Tempat hidup dan Kebiasaan

Burung yang jarang ditemui dan kurang umum di hutan primer, hutan yang telah rusak dan didominasi oleh tegakan bambu dari dataran rendah sampai ketinggian 1000 mdpl. Di Sulawesi dan Buton, lebih menyukai habitat hutan primer, sedangkan di Kabaena dapat di temui pada tipe habitat yang lebih beragam.

 

 

 

Peleng tarsius

            tarsius Peleng (Tarsius pelengensis), atau Pulau Peleng tarsius, adalah malam primata ditemukan di Pulau Peleng , Indonesia . Ini tarsius dapat mengubah adalah kepala 180 derajat, banyak seperti burung hantu , karena matanya tetap dalam rongganya.

 

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Order: Kera
Keluarga: Tarsiidae
Genus: Tarsius
Spesies: T. pelengensis

 

 

 

 

Pygmy tarsier

Para tarsius kerdil (Tarsius pumilus), juga dikenal sebagai tarsier gunung atau tarsier spektral yang lebih rendah, adalah malam primata ditemukan di pusat kota Sulawesi , Indonesia , di daerah dengan rendah vegetatif keanekaragaman spesies dari dataran rendah hutan tropis . Tarsier kerdil diyakini telah punah pada awal abad 20. Tak lama setelah berita itu keluar bahwa tarsius kerdil itu kembali ditemukan pada tahun 2008 spesies mengembangkan kultus berikut di Amerika Serikat. Kelompok ini memiliki pertemuan rutin, t-shirt, anggota dari seluruh dunia dan sebuah kelompok Facebook yang disebut “Tarsier Pygmy Fan Club”, yang didirikan oleh Chip Worthington dan Matt Munoz.

Tarsier kerdil memiliki panjang kepala-tubuh 95-105 mm (sekitar 4 inci), dan berat kurang dari 57 gram (2 ons). T. pumilus memiliki ciri-ciri morfologi yang sangat berbeda, panjang tubuh yang lebih kecil dari lainnya tarsius spesies, dan berat badan yang kecil. Ia juga memiliki telinga yang lebih kecil dari sisa genus, dan bulu adalah cokelat atau abu-abu dominan dengan penggemar atau pewarna merah kecoklatan. Ekornya sangat berambut dan rentang 135-275 mm. Fitur yang paling nyata dari T. pumilus adalah mata yang besar, sekitar 16 mm. Tarsier kerdil juga memiliki kuku pada semua lima digit masing-masing tangan dan di atas dua digit masing-masing kaki. Cakar seperti kuku bantuan dalam kekuatan menggenggam dan juga digunakan sebagai bantuan dalam kebutuhannya akan dukungan vertikal untuk makan dan gerakan.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Order: Kera
Keluarga: Tarsiidae
Genus: Tarsius
Spesies: T. pumilus

Tarsius tarsier

 

Tarsius tarsier (Binatang Hantu/Kera Hantu/Monyet Hantu) adalah suatu jenis primata kecil, memiliki tubuh berwarna coklat kemerahan dengan warna kulit kelabu, bermata besar dengan telinga menghadap ke depan dan memiliki bentuk yang lebar.

Nama Tarsius diambil karena ciri fisik tubuh mereka yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki mereka sehingga mereka dapat melompat sejauh 3 meter (hampir 10 kaki) dari satu pohon ke pohon lainnya. Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya. Setiap tangan dan kaki hewan ini memiliki lima jari yang panjang. Jari-jari ini memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar yang digunakan untuk grooming.

 

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:

Animalia

Filum:

Chordata

Kelas:

Mammalia

Ordo:

Primata

Famili:

Tarsiidae

Genus:

Tarsius
Erxleben, 1777

Spesies:

T.tarsier

 

Kuskus Beruang

 

Kuskus Beruang adalah anggota dari genus Ailurops. Kuskus Beruang adalah hewan marsupial dan dari keluarga Phalangeridae.

Kuskus Beruang adalah marsupial arboreal yang hidup di kanopi hutan hujan tropis. Hampir tidak diketahui status dan keadaan ekologinya. Meskipun ilmuwan menggolongkan populasi ini kedalam satu spesies, yaitu , A. ursinus, atau melanotis, tetapi pada dasarnya Kuskus Beruang merupakan suatu spesies.[1] Genus ini berbeda, meskipun pihak berwenang memasukan dalam subfamili, Ailuropinae. Kuskus Beruang hanya ditemukan di beberapa pulau di Indonesia, yang merupakan bagian dari Asia, yang sebagian besar marsupial tidak ditemukan di Asia.It is found only on some of the islands of Indonesia, which is a part of Asia, where marsupials are generally not found. Sebuah hipotesis menyatakan bahwa isolasi yang menyebabkan Kuskus Beruang ditemukan di Pulau Sulawesi yang terjadi pada waktu Miosen yang menyebabkan perbedaan dari keluarga Phalangeridae.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Infrakelas: Marsupialia
Ordo: Diprotodontia
Famili: Phalangeridae
Upafamili: Ailuropinae
Flannery, Archer and Maynes, 1987
Genus: Ailurops
Wagler, 1830

 

 

Kera Hitam Sulawesi

Kera Hitam Sulawesi merupakan jenis primata yang mulai langka dan terancam kepunahan. Kera Hitam Sulawesi yang dalam bahasa latin disebut Macaca nigra merupakan satwa endemik Sulawesi Utara.

Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra) mempunyai ciri-ciri sekujur tubuh yang ditumbuhi bulu berwarna hitam kecuali pada daerah punggung dan selangkangan yang berwarna agak terang. Serta daerah seputar pantat yang berwarna kemerahan.

Pada kepala Kera Hitam Sulawesi (Yaki) memiliki jambul. Mukanya tidak berambut dan memiliki moncong yang agak menonjol. Panjang tubuh Kera Hitam Sulawesi dewasa berkisar antara 45 hingga 57 cm, beratnya sekitar 11-15 kg.

 

 

Klasifikasi ilmiah:

Kerajaan: Animalia;

Filum: Chordata;

Kelas: Mammalia;

Ordo: Primata;

Famili: Cercopithecidae;

Genus: Macaca;

Spesies: Macaca nigra


Anoa

Klasifikasi ilmiah:

Kerajaan          : Hewan

Filum               : Chordata

Kelas               : Mamalia

Ordo                : Artiodactyla

Famili              : Bovidae

Upafamili        : Bovinae

Genus              : Bubalus

Spesies            : Bubalus quarlesi

Anoa adalah hewan khas Sulawesi. Ada dua spesies anoa yaitu: Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis). Keduanya tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Penampilan mereka mirip dengan rusa dan memiliki berat 150-300 kg. Anak anoa akan dilahirkan sekali setahun.

 

Babirusa

 Klasifikasi ilmiah:

Kerajaan          : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Mammalia

Ordo                : Artiodactyla

Famili              : Suidae

Genus              : Babyrousa
Spesies            : B. babyrussa

Babirusa (Babyrousa babirussa) hanya terdapat di sekitar Sulawesi, Pulau Togian, Malenge, Sula, Buru dan Maluku. Habitat babirusa banyak ditemukan di hutan hujan tropis. Hewan ini gemar melahap buah-buahan dan tumbuhan, seperti mangga, jamur dan dedaunan. Mereka hanya berburu makanan pada malam hari untuk menghindari beberapa binatang buas yang sering menyerang.
Panjang tubuh babirusa sekitar 87 sampai 106 sentimeter. Tinggi babirusa berkisar pada 65-80 sentimeter dan berat tubuhnya bisa mencapai 90 kilogram.

 Celepuk Siau

 

Celepuk siau (Otus siaoensis) merupakan salah satu burung langka dan terancam punah di dunia. Burung celepuk siau adalah burung endemik yang hanya terdapat di sebuah pulau kecil bernama ‚ÄúSiau‚ÄĚ di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Burung yang masuk dalam kategori keterancaman tertinggi, Kritis (Critically Endangered) ini tidak lagi pernah terlihat kembali sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1866.

Belum banyak data yang bisa menggambarkan ciri, habitat dan persebaran burung ini. Burung celepuk siau mempunyai ukuran tubuh yang relatif kecil, panjangnya sekitar 17 cm. Seperti burung hantu lainnya, terutama celepuk, burung endemik pulau Siau ini mempunyai ukuran kepala dan sayap yang relatif besar.

Burung celepuk siau diyakini hanya terdapat di satu tempat yakni pulau Siau (Koordinat: 2¬į43‚Äô22‚Ä≥N ¬† 125¬į23‚Äô36‚Ä≥E) di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Di duga binatang endemik ini mendiami daerah di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau. Selain itu juga di sekitar Gunung Tamata yang berada di bagian tengah Pulau Siau. Meskipun populasi di habitat tersebut hanya berdasarkan pengakuan masyarakat sekitar.

 

Klasifikasi ilmiah:

Kerajaan: Animalia;

Filum: Chordata;

Kelas: Aves;

Ordo: Strigiformes;

Famili: Strigidae;

Genus: Otus;

Spesies: O. Siaoensis

 

Musang Sulawesi

 

Musang sulawesi, Macrogalidia musschenbroekii, merupakan satu-satunya binatang pemakan daging (karnivora) yang endemik untuk Sulawesi.  Binatang ini merupakan jenis mamalia darat yang paling tidak dikenal dari Sulawesi.

Panjang tubuhnya adalah antara 65 sampai 71 cm (tanpa ekor) dan beratnya antara 3,8 hingga 6,1 kg.  Bagian atas tubuhnya berwarna coklat muda hingga coklat tua, sedangkan bagian bawah berkisar dari kuning kecoklatan sampai keputihan.  Bagian dadanya berwarna kemerahan dengan bintik-bintik coklat sempit, sedangkan pada sisi tubuh dan bagian punggung terdapat garis-garis, dan ekornya bergelang-gelang coklat muda hingga coklat tua.

Musang ini terdapat di hutan dataran rendah maupun hutan pegunungan sampai dengan ketinggian 2.600 m.  Binatang ini sering dilaporkan terlihat di hutan primer, walaupun, pernah juga dijumpai di padang rumput dan daerah perkebunan.  Makanannya terutama mamalia kecil dan buah, khususnya buah palem.  Binatang ini sangat mahir memanjat dengan menggunakan kakinya yang lentur serta jari yang berselaput dan cakar yang bisa ditarik sedikit (semi-retractile).  Binatang ini sering hidup menyendiri, meskipun induk dan anak yang masih kecil suka berkeliaran dan makan bersama.

 

Burung Rangkong Julang Sulawesi

 

Burung Rangkong tergabung dalam marga Bucerotidae, dalam bahasa Inggris disebut Horbbill, di Indonesia dikenal juga sebagai Julang, Enggang, dan Kangkareng. Burung Rangkong atau Enggang , tergolong jenis burung di lindungi oleh Peraturan Pemerintah RI (PP No 7 Tahun 1999).

Burung ini terdiri dari 57 spesies yang tersebar di Benua Asia dan Benua Afrika, 14 jenis di antaranya terdapat di Negara Indonesia, dan 3 jenis adalah termasuk Burung endemik Indonesia, alias hanya hidup di habitatnya di Indonesia.

Dari ketiga jenis burung Rangkong endemic Indonesia tersebut, dua jenis merupakan Rangkong endemic Sulawesi, yaitu

(pertama ) Rangkong Sulawesi atau Julang Sulawesi Ekor Hitam (Rhyticeros Cassidix), biasa juga disebut Rangkong Buton, Burung Taon atau Burung Allo.

(kedua) Julang Sulawesi Ekor Putih atau Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus)

Ciri-cirinya Burung Rangkong adalah , memiliki ciri khas berupa paruh yang sangat besar menyerupai tanduk, makanya disebut marga ‚ÄúBucerotidae‚ÄĚ (bahasa Yunani) yang artinya adalah ‚ÄúTanduk Sapi‚ÄĚ. Dimensi ukuran tubuh Rangkong Indonesia sekitar 40 ‚Äď 150 cm, dengan rberat mencapai 3.6 Kilogram. Warna bulu Rangkong umumnya didominasi oleh warna hitam (bagian badan) dan putih pada bagian ekor. Sedangkan warna bagian leher dan kepala cukup bervariasi, kemudian suara dari kepakan sayap dan suara ‚Äúcalling‚ÄĚ, seperti yang dipunyai Rangkong Gading (Buceros vigil) dengan ‚Äúcalling‚ÄĚ seperti orang tertawa terbahak-bahak dan dapat terdengar hingga radius 3 Km.

 

 

 

 

Burung Taktarau Iblis

Burung Taktarau Iblis, wow seram banget namanya. Memang burung ini kesannya misterius, mungkin karena sangat sulit dijumpai, karena burung ini suka hidup berisitrahat di sela-selat lumut dan daun paku yang lebat, sehingga sulit ditemukan, meskipun pada siang hari.Bahkan burung ini juga aktif mencari makan pada malam hari dan memiliki kemampuan menyamarkan diri dengan lingkungan sekitarnya. Burung ini termasuk endemik Sulawesi, alias hanya bisa ditemukan di habitatnya di Sulawesi dan berada dalam daftar hewan yang terancam punah dengan status rentan (vulnerable)oleh IUCN Red List of Threatened Species.

Masyarakat lokal lembah Napu di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah menyebut burung ini Toroku yang berarti Pencabut Mata. Sedangkan dalam bahasa Inggris namanya adalah Eared Nightjar, Heinrich’s Nightjar dan Satanic Eared Nightjar (atau Setan Malam Bertelinga), ngeri tuch. Dan nama latinnya adalah Eurostopodos Diabolicus, yang kalau di Indonesiakan artinya adalah Kejam.,

Ciri-ciri burung ini adalah, ukurannya kurang lebih 27cm, tampilan gelap, dengan pita tenggorokan merah karat pucat. Tanda bintik putih yang tidak menyolok terdapat pad bulu primer ke empat (dihitung dari sayap luar). Ekornya tidak ada warna putihnya.

 

Burung Jalak Tunggir Merah

Burung jalak Tunggir Merah (Scissirostrum dubium ) juga dikenal sebagai Myna Grosbeak, Grosbeak Starling, atau Scissor-billed Starling, adalah spesies jalak dalam keluarga Sturnidae. Ini adalah monotypic dalam Scissirostrum genus. Burung ini populasi habitat aslinya adalah endemik Pulau Sulawesi, Indonesia.

Habitat alami adalah tropis dataran rendah, dan pegunungan kadang-kadang subtropis, kawasan hutan dan lahan basah berhutan ringan.

Spesies ini bersarang di koloni dengan jumlah yang kadang mencapai ratusan pasang. Sarang batang pohon mati .
Makanannya buah, serangga, dan biji-bijian.

Daerah sebaran burung ini adalah di Sulawesi termasuk Bangka, Lembeh, Butung, Togian Apakah., Peling Apakah, dan. Banggai.

 

Burung Kipasan Sulawesi

Burung Kipasan Sulawesi (Rhipidura teysmann), adalah spesies burung dalam keluarga Rhipiduridae. Burung ini adalah burung dengan populasi habitatnya endemik Pulau Sulawesi, Indonesia, alias hanya dapat ditemukan di tempat asalnya yang asli yaitu di Pulau Sulawesi.
Burung ini juga biasa disebut dengan nama, The Rusty-bellied Rhipidura teysmanni, Rusty-bellied Fantail, Kipasan Sulawesi Fantail

 

Burung Cikarak Sulawesi

Burung Cikarak Sulawesi (Myza Celebensis) termasuk dalam spesies keluarga burung Meliphagidae. Burung ini populasi habitatnya adalah endemik Sulawesi, alias hanya bisa ditemukan di Pulau Sulawesi. Kata Celebensis, diambil dari kata Celebes, yakni nama Pulau Celebes atau Pulau Sulawesi. Burung ini juga dengan nama Dark-Myza Celebensis atau Dark-Eared Myza

                                            Burung Anisbentet Sangihe

 
Burung Anisbentet Sangihe (Colluricincla sanghirensis), adalah spesies burung dari keluarga Colluricinclidae., dalam Bahasa Inggris burung ini disebut dengan nama Sangihe Shrike-thrush.
Burung ini diketahui merupakan endemik Sulawesi, atau hanya bisa ditemukan di habitat aslinya di Pulau Sulawesi, Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara. Dimana habitat populasinya burung ini sudah menurun dalam cakupan dan kualitas populasi semakin kecil dan terus berkurang jumlahnya . Karena situasi populasi yang mengkhawatirkan itu maka burung ini diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah.
Ciri-ciri burung ini adalah, ukurannya menengah sekitar 17cm, warna Coklat Olive pada bagian atas, coklat tua pada bagian bahu dan bawah punggung. Pada bagian bawahnya lagi coklat kepucatan, kekaratan pada perut. Kaki hitam. Coklat zaitun pada sekitar kuning tenggorokan. Suaranya keras, nadanya seperti lagu dengan banyak pengulangan dan lembut. Populasinya mungkin akan sangat rendah jumlahnya (mungkin kurang dari 100 burung) mengingat daerah kecil habitat yang tersisa,dan kebanyakan dijumpai di Gunung Sahendaruman dan Gunung Sahengbalira.

 

Burung Maleo

Burung Maleo yang dalam nama ilmiahnya Macrocephalon maleo adalah sejenis burung yang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm. Burung Maleo adalah satwa endemik Sulawesi, artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi, Indonesia. Selain langka, burung ini ternyata unik karena anti poligami.

Burung Maleo (Macrocephalon maleo) memiliki bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecoklatan, kaki abu-abu, paruh jingga dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina serupa. Biasanya betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan.

Populasi terbanyaknya kini tinggal di Sulawesi Tengah. Salah satunya adalah di cagar alam Saluki, Donggala, Sulawesi Tengah. Di wilayah Taman Nasional Lore Lindu ini, populasinya ditaksir tinggal 320 ekor. Karena populasinya yang kian sedikit, burung unik dan langka ini dilindungi dari kepunahan.

 

 

Klasifikasi ilmiah;

Kerajaan: Vertebrata;

Filum: Chordata;

Kelas: Aves (Burung);

Ordo: Galliformes;

Famili: Megapodiidae;

Genus: Macrocephalon;

Spesies: Macrocephalon maleo

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s