Daerah Tumbuh

Posted: March 9, 2012 in knowledge

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERTUMBUHAN TANAMAN II

 

PERCOBAAN I

DAERAH TUMBUH

 

NAMA                        : FINNY ALVIONITA

NIM                            : H411 10 276

KELOMPOK             : IV (EMPAT)

HARI/TANGGAL     : SELASA/06 MARET 2010

ASISTEN                   : ST. HATIJAH

 

 

 

 

 

 

 

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2012

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Pertumbuhan didefenisikan sebagai pertambahan volume secara irreversible karena banyak organ tanaman yang telah dewasa mengalami perubahan volume sepanjang siang dan malam karena perubahan sementara kandungan air turgitasnya. Pengukuran pertumbuhan juga berdasarkan panjang, lebar/luas, berat kering tanaman. Kebanyakan pertumbuhan terjadi pada fase pendewasaan sel hanya sedikit kenaikan volumenya (Lantura, 2012).

ujung  akar dan ujung tajuk pertumbuhan dan tepat diatas nodus tumbuhan monokotil, atau di dasar daun rerumputan, meristem apikal tajuk dan meristem apikal akar terbentuk selama proses perkembangan embrio saat pembentukan biji dan disebut meristem primer. Kambium pembuluh dan daerah meristematik pada nodus monokotil daun rerumputan tidak mudah dikenal, kecuali setelah terjadi perkecambahan, dinamakan meristem sekunder (Lantura, 2012).

Melalui percobaan ini, akan dilihat bagaimana menentukan letak dari daerah pembesaran sel di samping daerah tumbuh ti belakang ujung meristem akar.

I.2 Tujuan Percobaan

Mengamati daerah tumbuh pada akar dan batang dari kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris.

I.3  Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilakukan pada hari Selasa, 06 Maret 2012, pukul 14.30 -17.30 WITA, bertempat di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengamatan dilakukan selama 5 hari di Laboratorium botani.

 

 


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan pada tumbuhan berlangsung terbatas pada beberapa bagian tertentu, yang terdiri dari sejumlah sel yang baru saja dihasilkan melalui proses pembelahan sel di moristem. Pembelahan sel itu sendiri mudah dirancukan dengan pembelahan sel tidak menyebabkan pertambahan ukuran, namun produk pembelahan sel itulah yang tumbuh dan menyebabkan pertumbuhan. Ujung akar dan ujung tajuk (apeks) mempunyai moristem. Daerah moristematik lainnya terdapat dikambium pembuluh dan tepat diatas nodus tumbuhan monokotil, atau di dasar daun rerumputan. Moristem apikal tajuk dan moristem apikal akar terbentuk selam proses perkembangan embrio saat pembentukan biji, dan disebut moristem primer.kambium pembuluh dan daerah moristematik pada nodus monokotil dan daun rerumputan tidak mudah dikenali, kecuali setelah perkecambahan terjadi, dinamakan moristem sekunder (Salisbury dan Ross, 1995).

Pertumbuhan dapat berarti pertambahan volume ukuran. Karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertambahan itu bukan hanya dalam volume, tetapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyak protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pada banyak kajian, pertumbuhan perlu diukur. Teorinya, semua ciri pertumbuhan yang disebutkan tidai bisa diukur, tetapi ada dua macam pengukuran yang lazim digunakan untuk mengukur pertambahan volume atau massa. Pertambahan volume sering ditentukan dengan cara mengukur perbesaran kesatu atau dua arah, seperti panjang (misalnya tinggi batang), atau luas (misalnya luas daun). Pengukuran volume, misalnya dengan cara pemindahan air, bersifat tidak merusak, sehingga tumbuhan yang sama dapat diukur berulang-ulang pada waktu yang berbeda. Pertambahan massa sering ditentukan dengan cara memanen seluruh tumbuhan atau bagian yang diinginkan, dan menimbangnya cepat-cepat sebelum air terlalu banyak menguap dari bahan tersebut (Salisbury dan Ross, 1995).

Pembelahan mitotik pada zigot dan nukleus endosperma menghasilkan biji yang terdiri atas (Kimball, 1992) :

  1. Plumula terdiri atas dua daun embrionik, yang akan menjadi daun-daun sejati yang pertama tumbuhan bibit, dan tunas terminal (apikal). Tunas ini adalah moristem dan disanalah akan terjadi pertumbuhan batang yang selanjutnya.
  2. Hipokotil dan radikula, yang masing-masing akan tumbuh menjadi batang dan akar primer.
  3. Satu atau dua kotiledon, yang menyimpan makanan untuk digunakan biji yang berkecambah. Angiospermae yang membentuk biji dengan dua kotiledon disebut dikotil. Kacang merupakan contoh umum. Yang hanya membentuk satu kotiledon disebut monokotil. Jagung dan rumput-rumputan adalah termasuk monokotil.

Makanan dalam kotiledon berasal dari endosperma yang pada gilirannya memperolehnya dari sporofit tetuanya. Pada banyak angiospermae, endosperma habis dimakan dan simpanan makanannya dipindahakan ke kotiledon pada saat perkembangan biji itu telah selesai. Pada yang lain-lain endosperma itu tetap didalam biji yang matang. Hal ini kita dapati pada beberapa dikotil dan semua monokotil. Sel-sel endosperma biasanya triploid (3n) berlawanan dengan endosperma yang haploid (n) pada konifer dan gymnospermae lainnya (Kimball, 1992).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan secara luas dapat di kategorikan sebagai faktor eksternal (lingkungan) dan factor internal (genetik) Dikelompokkan sebagai berikut (Anonim, 2011):

A. Faktor Eksternal

  1. Iklim:Cahaya,temperature,air,panjang hari,angin dan gas.
  2. Edafatik (tanah):tekstur,struktur,bahan organic,dan kapasitas pertukaran kation.
  3. Biologis:Gulma,serangga,organisme penyebab penyakit,nematode,macam- macam tipe herbivore, dan mikro organisme tanah.

B. Faktor internal:

  1. Ketahanan terhadap tekanan iklim,tanah dan biologis.
  2. Laju fotosintesis.
  3. Respirasi
  4. Klorofil,karotein, dan kandungan pigmen lainnya.
  5. Pembagian hasil asimilasi N.
  6. Tipe dan letak merisitem.
  7. Kapasitas untuk menyimpan cadangan makanan.
  8. Aktivitas enzim.
  9. Pengaruh langsung gen ( Heterosis,epistasi ).
  10. Differensiasi.

Dalam percobaan ini digunakan Kacang merah karena kacang merah Phaseolus vulgaris, memilki kulit luar biji yang merupakan bekas pelekatan dengan tali pusar, biasanya kelihatan kasar dan mempunyai warna yang berlainan dengan bagian lain kulit biji. Pusar biji jelas kelihatan. Perkecambahannya terjadi di atas tanah (epigaeis), yaitu jika pada perkecambahan, karena pembentangan ruas batang dibawah daun lembaga, daun lembaganya lalu terangkat keatas, muncul diatas tanah, daun lembaga kemudian berubah warna menjadi hijau, dapat digunakan untuk asimilasi, tetapi umurnya tidak panjang. Daun lembaga itu kemudian gugur, dan sementara itu pada kecambah telah terbentuk daun-daun normal yang dapat melakukan tugas asimilasi. Bakal buahnya beruang satu, bakal biji yang beruang satu dapat tersusun atas satu daun buah saja, putik tunggal, yaitu jika putik hanya tersusun atas sehelai daun buah saja (Tjitrosoepomo, 1989).

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1 Alat

            Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu toples plastik, lempeng kaca, dan penggaris besi.

III.2 Bahan

            Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu kertas filter, tinta polpen Hi-tech, tissue, air, karet gelang, dan kacang merah Phaseolus vulgaris.

III.3 Prosedur percobaan

Adapun prosedur kerja dari praktikum ini adalah:

  1. Mengkecambahkan biji kacang merah sebanyak mungkin selama 7 hari.
  2. Mengambil 6 kecambah kacang merah tersebut dari tempat tumbuhnya dengan hati-hati agar kecambah yang diambil memiliki akar yang lurus dan panjangnya lebih dari 2 cm.
  3. Memberi tanda pada ujung akar kecambah dengan tinta polpen Hi-tech sebanyak 10 garis dengan interval 2 mm sekurang-kurangnya 2 kecambah dan 1 kecambah lagi sebagai kontrol yang diberi tanda hanya 1 garis dengan interval 2 cm.
  4. Memberi tanda pada batang kecambah dengan tinta polpen Hi-tech sebanyak 10 garis dengan interval 2 mm sekurang-kurangnya 2 kecambah dan 1 kecambah lagi sebagai kontrol yang diberi tanda hanya 1 garis dengan interval 2 cm.
  5. Meletakkan kecambah tadi dengan kedudukan tegak pada lempeng kaca yang telah dibalut tissue dengan menggunakan karet gelang.
  6. Memasukkan lempeng-lempeng kaca yang ditempati kecambah kedalam toples yang telah berisi sedikit air, kemudian menempatkan toples tersebut di tempat gelap.
  7. Mengukur jarak masing-masing interval pada setiap kecambah yang bertindak sebagai perlakuan setelah 24 jam dan membandingkan dengan jarak interval pada kecambah yang bertndak sebagai kontrol.
  8. Mencatat perubahan yang diamati setiap hari selama 5 hari dan memasukkannya kedalam tabel pengamatan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,       2011,            Pertumbuhan                  dan                   Perkembangan,

http://biologyuniversityofeducation. blogspot.com/,  diakses  pada  tanggal

06 Maret 2012 Pukul 18.30 WITA

 

Kimball, J.W., 1992, Biologi Jilid 2, Erlangga, Jakarta.

 

Latunra, A.I., 2012, Penuntun  Praktikum  Struktur  Perkembangan  Tumbuhan II,

Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

Salisbury, F.B. dan Cleon W. Ross, 1995,  Fisiologi  Tumbuhan  Jilid   2,   ITB Press,

Bandung.

Tjitrosoepomo, G., 1989, Morfologi Tumbuhan, Universitas Gadjah   Mada  Press,

Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s