Di malam yang dingin, tak berbintang, bulan juga tiada #sok puitis banget gue =.=”  gue ngobrol sama Teddy. Inilah Percakapan gue sama dia..

Gue: “Teddy, kita Cuma berdua dirumah……. gimana…….ga takutkan??”

Teddy: –diem, natap tipi  #dia jawab ga takut

Gue: “Teddy, teddy…teddy…. tadi di tempat kuliah gue lucu tapi agak bikin kesel lho….”

Teddy : –masih diem #anggap aja dia bilang emang ada kejadian apa #readers melongo

Gue: “tadi, gue ngerjain si tiiit.. hahahahah, mukanya lucu banget loh tadi.. gue ampe ngakak guling2 dari lantai satu sampe lantai #lebay”

Teddy: –tetap dalam kediamannya

Gue: “trus yang bikin sebel itu, itu tu si tiit bikin kesel banget, emang seh dia ga ngapa2in tapi itu loh.. liat tampang nya aja bikin kesel… nyesek saya liat dia.. sapa suruh dulu suka marah-marah sama saya”

Teddy: –hening

Gue: “teddy ah……jawab kek, jangan Cuma denger terus #nyolek teddy”

Teddy:– bangkit dari tempat, menuju kamar diambang pintu balik badan “ngantuk denger lo bicara, bosen..met tidur ya..”

Gue: #melongo #ngambil pisau

 

Nah, itu adalah percakapan ga jelas gue sama si Teddy.. Itu semua adalah kebenaran yang ada, kecuali yang bagian terakhir itu Cuma fantasi belaka.. :D

 

 

 

 

 

 

Gas Etilen

Posted: March 18, 2012 in Biology, knowledge, SPT II

TUGAS KELOMPOK

SPT II

 

GAS ETILEN

 

 

 

 

 

 

 

 

MARWAH ADINDA LESTARI                         H411 10 002

PINKAN INGRID C. TUMANDUK                   H411 10 104

ABDUL AKIB                                                      H411 10 255

ASRIYANTI                                                         H411 10 262

NUR ALIAH                                                         H411 10 270

FINNY ALVIONITA                                           H411 10 276

SITTI HARMATANG                                          H411 10 901

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau fitohormon. Penggunaan istilah hormon sendiri menggunakan analogi fungsi hormon pada hewan; dan, sebagaimana pada hewan, hormon juga dihasilkan dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa ahli berkeberatan dengan istilah ini karena fungsi beberapa hormon tertentu tumbuhan (hormon endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan) dapat diganti dengan pemberian zat-zat tertentu dari luar, misalnya dengan penyemprotan (hormon eksogen, diberikan dari luar sistem individu). Mereka lebih suka menggunakan istilah zat pengatur tumbuh (bahasa Inggris plant growth regulator).

Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan berfungsi sebagai prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon tumbuhan. Bila konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai ekspresi. Dari sudut pandang evolusi, hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan diri tumbuh-tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya. Terdapat banyak hormon dalam tumbuhan itu sendiri, tapi khusus kali ini dalam makalah ini hanya akan membahas mengenai Gas Etilen.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam makalah ini, yaitu:

  1. Sejarah Gas Etilen.
  2. Pengertian Gas Etilen.
  3. Fungsi, dampak, produksi, serta faktor yang mempengaruhinya.

 

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui sejarah dari Gas Etilen.
  2. Untuk mengetahui pengertian tentang Gas Etilen.
  3. Untuk mengetahui fungsi, dampak, produksi, serta faktor yang mempengaruhi Gas Etilen itu sendiri.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sejarah Gas Etilen

Etilen telah digunakan sejak Mesir kuno, yang akan luka buah ara untuk merangsang pematangan (melukai merangsang produksi etilen oleh jaringan tanaman). Orang Cina kuno akan membakar dupa di kamar tertutup untuk meningkatkan pematangan pir. Pada tahun 1864, ditemukan bahwa gas bocor dari lampu jalan menyebabkan pengerdilan pertumbuhan, memutar tanaman, dan penebalan abnormal dari batang. Pada tahun 1901, seorang ilmuwan Rusia bernama Dimitry Neljubow menunjukkan bahwa komponen aktif adalah etilen Keraguan menemukan bahwa etilen merangsang absisi pada tahun 1917. Ia tidak sampai 1934 yang Gane melaporkan bahwa tanaman mensintesis etilen. Pada tahun 1935, Crocker mengusulkan bahwa etilen adalah hormon tanaman yang bertanggung jawab untuk pematangan buah serta penuaan dari vegetatif jaringan.

 

B. Pengertian Gas Etilen

Etilen merupakan hormon tumbuh yang diproduksi dari hasil metabolisme normal dalam tanaman. Etilen berperan dalam pematangan buah dan kerontokan daun. Etilen disebut juga ethane. Selain itu Etilen ( IUPAC nama: etena) adalah senyawa organik , sebuah hidrokarbon dengan rumus C2H 4 atau H2C = CH2. Ini adalah gas mudah terbakar tidak berwarna dengan samar “manis dan musky bau “ketika murni. [3] Ini adalah yang paling sederhana alkena (hidrokarbon dengan karbon-karbon ikatan rangkap ), dan paling sederhana hidrokarbon tak jenuh setelah asetilena (C2H 2) .

 

 

 

 

 

 

Rumus kimia etilen

 

C. Fungsi Gas Etilen

Fungsi utama dari gas etilen sendiri adalah berperan dalam proses pematangan buah. Tapi, selain itu ada fungsi lain dari gas etilen yaitu :

  • Mengakhiri masa dormansi
  • Merangsang pertumbuhan akar dan batang
  • Pembentukan akar adventif
  • Merangsang absisi buah dan daun
  • Merangsang induksi bunga Bromiliad
  • Induksi sel kelamin betina pada bunga
  • Merangsang pemekaran bunga
  • Bersama auksin gas etilen dapat memacu perbungaan mangga dan nenas.
  • Dengan giberelin, gas etilen dapat mengatur perbandingan bunga jantan dan bunga betina pada tumbuhan berumah satu.

D. Dampak Gas Etilen

Selain dampak yang menguntungkan, ternyata gas etilen itu sendiri memiliki dampak yang tidak di inginkan, yaitu :

—  Mempercepat senensen dan menghilangkan warna hijau pada buah seperti mentimun dan sayuran daun

—  Mempercepat pemasakan buah selama penanganan dan penyimpanan

—   “Russet spoting” pada selada

—  Pembentukan rasa pahit pada wortel

—  Pertunasan kentang

—  Gugurnya daun (kol bunga, kubis, tanaman hias)

—   Pengerasan pada asparagus

—  Mempersingkat masa simpan dan mengurangi kualitas bunga

—  Gangguan fisiologis pada tanaman umbi lapis yang berbunga

—  Pengurangan masa simpan buah dan sayuran

 

E. Produksi Gas Etilen

Etilen diproduksi oleh tumbuhan tingkat tinggi dari asam amino metionin yang esensial pada seluruh jaringan tumbuhan. Produksi etilen bergantung pada tipe jaringan, spesies tumbuhan, dan tingkatan perkembangan. Etilen dibentuk dari metionin melalui 3 proses:

  • ATP merupakan komponen penting dalam sintesis etilen. ATP dan air akan membuat metionin kehilangan 3 gugus fosfat.
  • Asam 1-aminosiklopropana-1-karboksilat sintase(ACC-sintase) kemudian memfasilitasi produksi ACC dan SAM (S-adenosil metionin).
  • Oksigen dibutuhkan untuk mengoksidasi ACC dan memproduksi etilen. Reaksi ini dikatalisasi menggunakan enzim pembentuk etilen.

E. Faktor yang mempengaruhi aktifitas Gas Etilen

Adapun yang mempengaruhi aktifitas etilen yaitu:

—  Suhu. Suhu tinggi (>350C) tidak terjadi pembentukan etilen. Suhu optimum pembentukan etilen (tomat,apel) 320C, sedangkan untuk buah-buahan yang lain lebih rendah.

—  Luka mekanis dan infeksi. Buah pecah, memar, dimakan dan jadi sarang ulat

—   Sinar radioaktif

—  Adanya O2 dan CO2. Bila O2 diturunkan dan CO2 dinaikkan maka proses pematangan terhambat. Dan bila keadaan anaerob tidak terjadi pembentukan etilen

—  Interaksi dengan hormon auxin. Apabila konsentrasi auxin meningkat maka etilen juga akan meningkat

—  Tingkat kematangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

III.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang di ambil dari makalah ini, yaitu :

  1. Sejarah dari Gas Etilen dimulai dari Mesir kuno, di kenal pada tahun 1901 dan berkembang dari tahun 1935 sampai sekarang
  2. Gas Etilen itu merupakan hormon yang dihasilkan oleh buah yang sudah tua atau matang, dan merupakan senyawa organik dengan rumus kimia C2H4.
  3. Fungsi utama dari Gas Etilen adalah membantu dalam proses pematangan buah, tapi dampak negatifnya masa penyimpanan menjadi lebih pendek.
  4. Produksi Gas Etilen di dapat dari  asam amino metionin yang esensial pada seluruh jaringan tumbuhandan sangat bergantung pada tipe jaringan, spesies tumbuhan, dan tingkatan perkembangan
  5. Aktifitas Gas Etilen Di pengaruhi oleh Suhu, luka, sinar radioaktif, adanya O2 dan H2O, Hormon auksin, dan tingkat kematangan buah itu sendiri.

 

III.2 Saran

Agar dalam proses pemberian materi kepada mahasiswa, ada baiknya ada buku atau diktat untuk di jadikan landasan dalam mata kuliah ini.

 

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERTUMBUHAN TANAMAN II

 

PERCOBAAN III

PERKEMBANGAN KECAMBAH DALAM GELAP DAN TERANG

 

NAMA                        : FINNY ALVIONITA

NIM                            : H411 10 276

KELOMPOK             : IV (EMPAT)

HARI/TANGGAL     : SELASA/13 MARET 2012

ASISTEN                   : ST. HATIJAH

 

 

 

 

 

 

 

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2012

                                                             BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Latar Belakang

Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas terhadap lingkungan dan koordinasi respons sangat jelas terlihat. Tumbuhan dapat mengindera gravitasi dan arah cahaya dan menanggapi stimulus-stimulus ini dengan cara yang kelihatannya sangat wajar bagi kita. Seleksi alam lebih menyukai mekanisme respons tumbuhan yang meningkatkan keberhasilan reproduktif, namun ini mengimplikasikan tidka adanya perencanaan yang disengaja pada bagian dari tumbuhan tersebut (Elisa, 2006).

Perkembangan memerlukan suhu yang cocok, banyaknya ir yang memadai, dan persediaan oksigen yang cukup. Periode dormansi juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan banyak biji sebagai contoh, biji buah apel hanya dapat berkecambah setelah masa dingin yang lama. Ada bukti bahwa perkecambahan kimia terbentuk di dalam bijinya ketika terbentuk. Pencegahan ini lambat laun akan dipecah pada suhu rendah sampai tidak lagi memadai untuk menghalangi perkecambahan ketika kondisi lainnya membaik (Latunra, 2012).

Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi. Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun dari udara (dalam bentuk uap air ataupun embun). Efek yang terjadi membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar dan biji yang melunak (Latunra, 2012).

Percobaan ini diadakan agar kita dapat melihat bahwa cahaya secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perkembangan perkecambahan itu sendiri.

I.2 Tujuan Percobaan

Mempelajari pengaruh cahaya terhadap perkembangan kecambah kacang hijau Phaseolus radiatus dalam gelap dan terang.

I.3  Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilakukan pada hari Selasa, 13 Maret 2012, pukul 14.30 -17.30 WITA, bertempat di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengamatan dilakukan selama 7 hari di Laboratorium botani.

 

 


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas terhadap lingkungan dan koordinasi respons sangat jelas terlihat. Tumbuhan dapat mengindera gravitasi dan arah cahaya dan menanggapi stimulus-stimulus ini dengan cara yang kelihatannya sangat wajar bagi kita. Seleksi alam lebih menyukai mekanisme respons tumbuhan yang meningkatkan keberhasilan reproduktif, namun ini mengimplikasikan tidka adanya perencanaan yang disengaja pada bagian dari tumbuhan tersebut (Campbell, dkk., 2002).

Pertumbuhan adalah proses pertambahan volume yang irreversible (tidak dapat balik) karena adanya pembelahan mitosis atau pembesaran sel; dapat pula disebabkan oleh keduanya. Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif (Anonim, 2012).

Tumbuhan bertambah tinggi dan besar disebabkan oleh dua hal. Pertama, pertambahan jumlah sel sebagai hasil pembelahan mitosis pada meristem (titik tumbuh) di titik tumbuh primer dan sekunder. Kedua, pertambahan komponen-komponen seluler dan adanya diferensiasi sel. Misalnya penyerapan air ke dalam vakuola yang menyebabkan sel membesar serta terbentuknya jaringan, organ, dan individu melalui proses diferensiasi sel dan atau / spesialisasi (Anonim, 2012).

Pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan dimulai dengan perkecambahan biji. Kemudian kecambah berkembang menjadi tumbuhan kecil yang sempurna, yang kemudian tumbuh membesar (Anonim, 2012).

Tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena jika auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat. Sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme. Untuk membedakan tanaman yang memiliki hormon yang banyak atau sedikit qita harus mengetahui bentuk anatomi dan fisiologi pada tanaman sehingga kita lebih mudah untuk mengetahuinya. sedangkan untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang dan gelap diantaranya (Anonim, 2012).

Tanaman yang diletakkan ditempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan.hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari. sedangkan untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan ditempat gelap,tetapi tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan, hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin dihambat oleh sinar matahari (Anonim, 2012).

Banyak faktor yang mepengaruhi pertumbuhan di antaranya adalah faktor genetik untuk internal dan faktor eksternal terdiri dari cahaya, kelembapan, suhu, air, dan hormon. Untuk proses perkecambahan banyak di pengaruhi oleh faktor cahaya dan hormon, walaupun faktor yang lain ikut mempengaruhi. Menurut leteratur perkecambahan di pengaruhi oleh hormon auxin , jika melakukan perkecambahan di tempat yang gelap maka akan tumbuh lebih cepat namun bengkok, hal itu disebabkan karena hormon auxin sangat peka terhadap cahaya, jika pertumbuhannya kurang merata. Sedangkan di tempat yang perkecambahan akan terjadi relatif lebih lama, hal itu juga di sebabkan pengaruh hormon auxin yang aktif secara merata ketika terkena cahaya. Sehingga di hasilkan tumbuhan yang normal atau lurus menjulur ke atas (Soerga, 2009).

Istilah auksin berasal dari bahasa yunani yaitu auxien yang berarti meningkatkan. Auksin ini pertama kali digunakan Frits Went, seorang mahasiswa pascasarjana di negeri belanda pada tahun 1962, yang menemukan bahwa suatu senyawa yang belum dapat dicirikan mungkin menyebabkan pembengkokan koleoptil oat kerah cahaya. Fenomena pembengkokan ini dikenal dengan istilah fototropisme. Senyawa ini banyak ditemukan Went didaerah koleoptil. Aktifitas auksin dilacak melalui pembengkokan koleoptil yang terjadi akibat terpacunya pemanjangan pada sisi yang tidak terkena cahaya matahari (Salisbury dan Ross, 1995).

Auksin yang ditemukan Went, kini diketahui sebagai Asam Indole Asetat (IAA) dan beberapa ahli fisiologi masih menyamakannya dengan auksin. Namun tumbuhan mengandung 3 senyawa lain yang struktrurnya mirip dengan IAA dan menyebabkan banyak respon yang sama dengan IAA. Ketiga senyawa tersebut dapat dianggap sebagai auksin. Senyawa-senyawa tersebut adalah asam 4-kloroindol asetat, asam fenilasetat (PAA) dan asam Indolbutirat (IBA) (Dwidjoseputro, 1992).

Para ahli fisiologi telah meneliti pengaruh auksin dalam proses pembentukan akar lazim, yang membantu mengimbangkan pertumbuhan sistem akar dan system tajuk. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa auksin dari batang sangat berpengaruh pada awal pertumbuhan akar. Bila daun muda dan kuncup, yang mengandung banyak auksin, dipangkas maka jumlah pembentukan akar sampling akan berkurang. Bila hilangnya organ tersebut diganti dengan auksin, maka kemampan membentuk akar sering terjadi kembali (Salisbury dan Ross, 1995).

Auksin juga memacu perkembangan akar liar pada batang. Banyak spesies berkayu, misalnya tanaman apel (Pyrus malus), telah membentuk primordia akar liar terlebih dahulu pada batangnya yang tetap tersembunyi selama beberapa waktu lamanya, dan akan tumbuh apabila dipacu dengan auksin. Primordia ini sering terdapat di nodus atau bagian bawah cabang diantara nodus. Pada daerah tersebut, pada batang apel, masing-masing mengandung sampai 100 primordia akar. Bahkan, batang tanpa primordia sebelumnya kan mampu menghasilkan akar liar dari pembelahan lapisan floem bagian luar (Salisbury dan Ross, 1995).

Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara, yaitu dengan intensitas (kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas (panjang hari) (Elisa, 2006).

Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan perkecambahan pada biji-biji yang positively photoblastic (perkecambahannya dipercepat oleh cahaya); jika penyinaran intensitas tinggi ini diberikan dalam durasi waktu yang pendek. Hal ini tidak berlaku pada biji yang bersifat negatively photoblastic (perkecambahannya dihambat oleh cahaya) (Elisa, 2006).

Biji positively photoblastic yang disimpan dalam kondisi imbibisi dalam gelap untuk jangka waktu lama akan berubah menjadi tidak responsif terhadap cahaya, dan hal ini disebut skotodormant. Sebaliknya, biji yang bersifat negatively photoblastic menjadi photodormant jika dikenai cahaya. Kedua dormansi ini dapat dipatahkan dengan temperatur rendah (Elisa, 2006).

Yang menyebabkan terjadinya perkecambahan adalah daerah merah dari spektrum (red; 650 nm), sedangkan sinar infra merah (far red; 730 nm) menghambat perkecambahan. Efek dari kedua daerah di spektrum ini adalah mutually antagonistic (sama sekali bertentangan): jika diberikan bergantian, maka efek yang terjadi kemudian dipengaruhi oleh spektrum yang terakhir kali diberikan. Dalam hal ini, biji mempunyai 2 pigmen yang photoreversible (dapat berada dalam 2 kondisi alternatif) (Elisa, 2006):

P650 : mengabsorbir di daerah merah

P730 : mengabsorbir di daerah infra merah

Jika biji dikenai sinar merah (red; 650 nm), maka pigmen P650 diubah menjadi P730. P730 inilah yang menghasilkan sederetan aksi-aksi yang menyebabkan terjadinya perkecambahan. Sebaliknya jika P730 dikenai sinar infra merah (far-red; 730 nm), maka pigmen berubah kembali menjadi P650 dan terhambatlah proses perkecambahan (Elisa, 2006).

Respon dari biji photoblastic dipengaruhi oleh temperature (Elisa, 2006):

Pemberian temperatur 10-200C : biji berkecambah dalam gelap

Pemberian temperatur 20-300C : biji menghendaki cahaya untuk berkecambah

Pemberian temperatur >350C : perkecambahan biji dihambat dalam gelap atau terang

Kebutuhan akan cahaya untuk perkecambahan dapat diganti oleh temperatur yang diubah-ubah. Kebutuhan akan cahaya untuk pematahan dormansi juga dapat digantikan oleh zat kimia seperti KNO3, thiourea dan asam giberelin (Elisa, 2006).

Faktor-faktor yang menyebabkan dormansi pada biji dapat dikelompokkan dalam: (a) faktor lingkungan eksternal, seperti cahaya, temperatur, dan air; (b) faktor internal, seperti kulit biji, kematangan embrio, adanya inhibitor, dan rendahnya zat perangsang tumbuh; (c) faktor waktu, yaitu waktu setelah pematangan, hilangnya inhibitor, dan sintesis zat perangsang tumbuh. Dormansi pada biji dapat dipatahkan dengan perlakuan mekanis, cahaya, temperatur, dan bahan kimia. Proses perkecambahan dalam biji dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu proses perkecambahan fisiologis dan proses perkecambahan morfologis. Sedangkan dormansi yang terjadi pada tunas-tunas lateral merupakan pengaruh korelatif dimana ujung batang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bagian tumbuhan lainnya yang dikenal dengan dominansi apikal. Derajat dominansi apikal ditentukan oleh umur fisiologis tumbuhan tersebut (Anonim, 2008).

Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangkaian kompleks proses-proses metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangkaian proses perkecambahan. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan lacton tidak jenuh; namun lokasi penghambatannya sukar ditentukan karena daerah kerjanya berbeda dengan tempat di mana zat tersebut diisolir. Zat penghambat dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah (Elisa, 2006).

Biji-bijian dari banyak spesies tidak akan berkecambah pada keadaan gelap, biji-biji itu memerlukan rangsangan cahaya. Karena itu kelihatannya perkecambahan yang dikendalikan cahaya merupakan satu adaptasi tanaman yang tidak toleran terhadap penaungan. Cahaya sendiri memiliki suatu intensitas, kerapatan pengaliran atau intensitas menunjukkan pengaruh primernya terhadap fotosintesis dan pengaruh sekundernya pada morfogenetika pada intensitas rendah, tetapi sebagian memerlukan energi yang lebih besar (Zhamal, 2008).

Ekologi tanaman dalam kaitannya dengan intensitas cahaya diatur oleh dua hal yaitu penempatan daun dalam posisi dimana akan diterima intersepsi cahaya maksimum. Berarti diatas kanopi dan didalam komunitas yang kompleks sebagian besar daun tesebut tidak dapat mencapainya. Karena itu sebagian besar dari daun akan berada pada intensitas cahaya yang kurang dari yang dibutuhkan.
Fotosintesis dimaksimumkan untuk energi yang diterima, dengan anggapan keadaan ini menjadi dibawah titik jenuh cahaya untuk fotosintesis normal, sehingga tetap dalam kesinambungan neto karbon yang positif (pengikatan CO2 untuk fotosintesis lebih besar daripada jumlah yang dikeluarkan pada respirasi dan hasil karbohidrat). Sehelai daun yang berada pada keseimbangan C yang negative akan memerlukan gula yang diambil dari sisa tanaman dan akan mengurangi ketegaran secara menyeluruh (Zhamal, 2008).

Adanya penyinaran sinar matahari akan menimbulkan cahaya. Sedang cahaya sangat dibutuhkan untuk :Pembentukan zat warna hijau (chlorophyll),
Pertumbuhan tanaman dan kwalitas daripada produksi. Tanaman yang kurang cahaya matahari pertumbuhannya lemah, pucat dan memanjang. Setiap jenis sayuran menghendaki syarat-syarat yang sangat berlawanan, ada suatu jenis yang menghendaki penyinaran panjang, ada pula yang pendek. Yang dimaksud penyinaran panjang ialah lebih dari 12 jam, sedang penyinaran pendek kurang dari 12 jam (Zhamal, 2008).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1 Alat

            Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu nampan dan penggaris.

III.2 Bahan

            Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu kertas koran, air, dan biji kacang hijau Phaseolus radiatus.

III.3 Prosedur percobaan

Adapun prosedur kerja dari praktikum ini adalah:

  1. Merendam 60 biji kacang hijau Phaseolus radiatus di dalam air selama beberapa menit.
  2. Memilih kacang hijau Phaseolus radiatus yang tidak mengapung di air yang menandakan kualitasnya baik dan cocok.
  3. Menyiapkan 2 buah nampan yang telah diberi sobekan-sobekan kecil koran di dasarnya.
  4. Memasukkan masing-masing 10 buah kacang hijau Phaseolus radiatus di nampan dengan diberi jarak yang sama.
  5. Menempatkan satu buah nampan di tempat terang dan satu buah toples di tempat gelap.
  6. Melakukan pengamatan selama 1 minggu untuk melihat perkembangan tanaman dan mencatat hasilnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2012,   Auksin, http://id.Anonim.org/,   diakses pada   tanggal    14 Maret 2012 pukul 20.53 WITA.

 

Anonim, 2008,  Dormansi  Benih   dan   Pemecahannya,    http://pustaka.ut.ac.id/, diakses pada tanggal 15 April 2008 pukul 20.53 WITA.

 

Elisa,    2006,    Dormansi   dan   Perkecambahan    Biji,     http://elisa.ugm.ac.id/, diakses pada tanggal 14 Maret 2012 pukul 20.53 WITA.

 

Dwidjoseputro, D., 1992,  Pengantar  Fisiologi  Tumbuhan,  Gramedia     Pustaka Utama, Jakarta.

 

Campbell, N. A, J. B. Reece  and L. G. Mitchell, 2002, Biologi  jilid  2,  Erlangga,

Jakarta.

 

Latunra, A.I., 2012, Penuntun  Praktikum  Struktur  Perkembangan  Tumbuhan II,

Universitas Hasanuddin, Makassar.

 

Salisbury, F.B. dan Cleon W. Ross, 1995,  Fisiologi  Tumbuhan  Jilid   2,   ITB

Press, Bandung.

 

Soerga, N.,  2009,  Pola  Pertumbuhan  Tanaman,  http://soearga.wordpress.com/,

diakses pada tanggal 14 Maret 2012 pukul 20.53 WITA.

 

Zhamal,  2008,  Pengaruh  Cahaya  Terhadap  Pertumbuhan Biji   Kacang  Hijau,

http:// catatanzhamal.blogspot.com/,  diakses pada  tanggal  14 Maret 2012

pukul 20:53.

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERTUMBUHAN TANAMAN II

 

PERCOBAAN IV

KONTROL FOTOPERIODISITAS TERHADAP PEMBUNGAAN

 

NAMA                        : FINNY ALVIONITA

NIM                            : H411 10 276

KELOMPOK             : IV (EMPAT)

HARI/TANGGAL     : SELASA/13 MARET 2012

ASISTEN                   : ST. HATIJAH

 

 

 

 

 

 

 

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2012

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pada beberapa tumbuhan bunga merupakan organ reproduksi yang sangat penting, khususnya tumbuhan angiospermae. Bunga merupakan salah satu hasil dari perkembangan yang nyata dari suatu tumbuhan. Kebanyakan tumbuhan, proses terbentuknya bunga sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan (Latunra, 2012).

Beberapa tumbuhan harus mengalami periode suhu rendah selama fase vegetatifnya sebelum terbentuk bunga, sedangkan tumbuhan lain akan berbunga bila mendapatkan cahaya yang cukup. Pengaruh lamanya penyinaran pada proses pembentukan bunga dan perkembangan tumbuhan disebut fotoperiodisme (Latunra, 2012).

Fotoperiodisme merupakan fenomena yang tersebar luas dialam. Dalam tulisannya, Garner dan Allard (1920) telah mengemukakan bahwa migrasi burung mungkin dikendalikan oleh fotoperiode, dan segera fotoperiodisme pada burung dibuktikan. Sejak itu, banyak respon hewan terhadap fotoperiodisme telah di dokumentasikan, termasuk beberapa perubahan perkembangan pada serangga, perubahan bulu, serta peningkatan reproduksi pada serangga reptilian, burung dan mamalia. Pada dasarnya semua aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh fotoperiode (Latunra, 2012).

Fotoperiodisme sendiri merupakan respon tumbuhan terhadap intensitas cahaya dan panjang penyinaran. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai respon tumbuhan terhadap intesitas cahaya tersebut, maka diadakanlah percobaan ini.

I.2 Tujuan Percobaan

Melihat pengaruh fotoperiodisme terhadap pembentukan bunga pada bayam duri Amaranthus spinosus dan Pacar air Impatiens balsamina.

I.3  Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilakukan pada hari Selasa, 13 Maret 2012, pukul 14.30 -17.30 WITA, bertempat di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengamatan dilakukan selama satu bulan di laboratorium botani.

 


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Faktor lingkungan merupakan faktor yang sangat erat berhubungan kehidupan tanaman, yang akan mempengaruhi proses-proses fisiologi dalam tanaman. Semua proses fisiologi akan dipengaruhi oleh suhu dan beberapa proses akan tergantung dari cahaya. Penyinaran cahaya terhadap tanaman merupakan salah satu faktor eksternal yaitu faktor dari luar yang mempengaruhi pembungaan (Natania, 2008).

Kejadian musiman sangat penting dalam siklus kehidupan sebagian besar tumbuhan. Perkecambahan biji, pembungaan, permulaan dan pengakhiran dormansi tunas merupakan contoh-contoh tahapan dalam perkembangan tumbuhan yang umumnya terjadi pada waktu spesifik dalam satu tahun. Stimulus lingkungan yang paling sering digunakan oleh tumbuhan untuk mendeteksi waktu dalam satu tahun adalah fotoperiode, yaitu suatu panjang relative malam dan siang. Respons fisologis terhadap fotoperiode, seperti pembungaan, disebut fotoperiodisme (photoperiodism) (Campbell, dkk., 2003).

Ciri utama fotoperiodisme adalah pengukuran waktu musim dengan mendeteksi panjang siang dan malam. Menurut nalar, fotoperiodisme termasuk contoh pengukuran wqaktu biologis seperti iarama srikardian dan navigasi angkasa. Jika waktu diukur dengan rentan waktu yang dibutuhkan bagi beberapa metabolit untuk diubah menjadi bentuk lain, hal ini sejalan dengan gelas jam yang mengukur selang waktu yang diperlukan bagi pasir untuk jatuh dari atas ke bawah melalui celah yang sempit. Pada sistem seperti itu, hanya satu selang waktu yang diperlukan bagi pasir yang dapat diukur, dan beberapa pengaruh luar harus memulai kembali sistem itu (membalikkan gelas jam). Irama srikardian yang berfungsi selama selang waktu yang panjang pada kondisi terang, dengan suhu dan faktor lain yang konstan, tidak sama dengan gelas-jam, tetapi lebih mirip dengan bandul yang merupakan osilator (Dwidjoseputro, 1994).

Fotoperiodisme merupakan fenomena yang tersebar luas dialam. Dalam tulisannya, Garner dan Allard (1920) telah mengemukakan bahwa migrasi burung mungkin dikendalikan oleh fotoperiode, dan segera fotoperiodisme pada burung dibuktikan. Sejak itu, banyak respon hewan terhadap fotoperiode telah didokumentasikan, termasuk beberapa perubahan perkembangan pada serangga, perubahan bulu, serta peningkatan reproduksi pada serangga reptilian, burung dan mamalia. Pada dasarnya semua aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh fotoperiode (Salisbury dan Ross, 1995).

Pertama-tama, perkecambahan biji tertentu dipengaruhi oleh fotoperiode yang diterapkan pada tanaman tetua. Perkecambahan biji dewasa spesies tertentu juga dipengaruhi oleh fotoperiode. Terdapat biji-biji hari panjang dan biji hari pendek dalam hal perkecambahan, dan ini merupakan efek fotoperiodisme sejati dengan memperoleh respon hari panjang melalui interupsi pada periode gelap yang panjang (Salisbury dan Ross, 1995).

Garner dan Allard menemukan bahwa beberapa tanaman berbunga sebagai respon terhadap siang hari yang lebih panjang daripada panjang kritis, tumbuhan seperti itu disebut tumbuhan hari panjang dan tumbuhan seperti tembakau dan kedelai yang berbunga bila panjang hari kurang dari maksimum, dinamakan tumbuhan hari pendek. Beberapa tumbuhan yang mereka teliti tidak menunjukkan respon terhadap panjang hari, disebut tumbuhan hari netral. Hasil Garner dan Allard itu kemudian dipublikasikan pada tahun 1920, dan mereka menamakan temuan pembungaan dengan respon terhadap panjang siang dan malam sebagai fotoperiodisme (Dwidjoseputro, 1984).

Kejadian musiman sangat penting dalam siklus kehidupan sebagian besar tumbuhan. Perkecambahan biji, pembungaan, permulaan dan pengakhiran dormansi tunas merupakan contoh-contoh tahapan dalam perkembangan tumbuhan yang umumnya terjadi pada waktu yang spesifik dalam satu tahun. Stimulus lingkungan yang paling sering digunakan oleh tumbuhan untuk mendeteksi waktu dalam satu tahun adalah fotoperiode, yaitu suatu panjang relative malam dan siang. Respon fisiologis terhadap fotoperiode, seperti pembungaan disebut fotoperiodisme (Campbell, dkk., 2003).

Salah satu petunjuk paling awal mengenai bagaimana tumbuhan mendeteksi perkembangan musim berasal dari suatu varietas hutan tembakau yang dipelajari oleh W.W. Garner dan H.A. Allard pada tahun 1920. varietas ini, yang dinamai Marylind Mammoth, tumbuh luar biasa tingginya akan tetapi gagal berbunga selama musim panas, pada saat tumbuhan tembakau normal berbunga. Akhirnya tanaman tersebut berbunga dalam rumak kaca pada bulan Desember (Campbell, dkk., 2003).

Setelah mencoba menginduksi pembungaan dengan cara membuat variasi suhu, kelembapan, dan nutrisi mineral, Garner dan Allard mempelajari bahwa pemendekan siang hari pada musim dinginlah yang merangsang tumbuhan Maryland berbunga. Jika tumbuhan itu dpelihara dalam kotak yang kedap cahaya sehingga lampu dapat digunakan untuk memanipulasi durasi siang dan malam, pembungaan akan terjadi jika panjang siang hari adalah 14 jam atau lebih pendek. Tumbuhan ini tidak berbunga selama musim panas, karena posisi garir lintang di Maryland, sehingga siang hari terlalu panjang selama musim itu (Campbell, dkk., 2003).

Pentingnya proses pembungaan menyebabkan banyak ahli fisiologi tumbuhan mencoba mencari apa yang memulainya. Dalam beberpa kasus, rangsangan semata-mata tampaknya dari dalam, seperti pada varietas tomat tertentu secar otomasis membentukprimodial bunga setelah terbentuk 13 ruas pada batang yang tumbuh. Akan tetapi, harus ada cukup makanan cadangan dalam tumbuhan. Jika tumbuhan tidak berfotosintesis secara aktif, maka akan kekurangan cadangan makanan yang penting untuk proses pembungaan (Kimball, 1992).

Pada kebanyakan kasus, rangsangan yang memulai proses pembuangan tampaknya berasal dari luar. Suhu seringkali berfungsi sebagai perangssang kritis. Hal ini terutama benar bagi spesies biennial, yakni tumbuhan yang memerlukan dua musim tumbuh agar dapat melengkapi daur hidupnya. Bit, wortel, bayam merupakan tiga tanaman biennial yang sering dijumpai. Pada musim tumbuh yang pertama, tumbuhan tersebut mengembangkan akar, batang yang pendek, dan sekelompok daun. Selama musim ini, makanan disimpan dalam sistem perakaran. Dengan datangnya cuaca yang dingi, maka pucuknya akan mati. Musim berikutnya bunga terbentuk pada pertumbuhan pucuk yang baru. Setelah proses reproduksi lengkap, seluruh tanaman mati. Akan tetapi, perbungaan tidak terjadi pada musim kedua, kecuali jika tanaman dibiarkan dalam cuaca dingin selam musim dingin. Masih ada faktor lain yang memicu proses pembungaan pada banyak spesies tumbuhan yaitu perubahan pada interval penyinaran sehari-hari terhadap tumbuhan (Kimball, 1992).

Dalam siklus hidup tumbuhan, akhir pembentukan daun dan internodus oleh meristem merupakan awal terjadinya proses pembungaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembungaan antara lain fitokrom, fotoperiodisitas, vernalisasi, dan hormon pembungaan (Anonim, 2008).

Berdasarkan adanya respon tumbuhan terhadap lamanya penyinaran (fotoperiodisitas) dalam proses pembungaan, maka tumbuhan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (Anonim, 2008):

  1. Tumbuhan hari pendek (short day plant)
  2. Tumbuhan hari panjang (long day plant)
  3. Tumbuhan hari netral (neutral day plant).

Pada proses pembungaan yang merupakan periode kritis adalah panjang malam (periode gelapnya). Proses pembungaan tumbuhan tertentu dapat dirangsang dengan perlakuan temperatur rendah (vernalisasi). Pada dasarnya vernalisasi tidak hanya untuk pembungaan tetapi dapat pula diperlakukan pada biji-biji tumbuhan tertentu sebelum perkecambahan. Temperatur optimum untuk vernalisasi berkisar antara 0 – 50C. Zat yang bertanggung jawab meneruskan rangsangan vernalisasi disebut vernalin, yaitu suatu hormon tumbuh. Hormon tumbuh yang berperan dalam proses pembungaan disebut florigen. Asam giberelin (GA) merupakan salah satu hormon tumbuh yang berperan dalam proses pembungaan, tetapi tidak semua GA efektif untuk merangsang pembungaan, misal GA6 dan GA8 (Anonim, 2008).

Semua kondisi fisik ekosistem bukan saja faktor-faktor pembatas tetapi juga oleh faktor-faktor pengatur. Misalnya siklus tahunan bertambah dengan naiknya garis lintang. Fotoperiodisitas dikenal sebagai biological clock dan organisme untuk membuat mekanisme waktu yang berubah-ubah. Biological Clock adalah mekanisme fisiologis untuk pengaturan waktu. Di antara tumbuhan tingkat tinggi, beberapa jenis tumbuhan berbunga dengan hari panjang (long day plants), yang lain berbunga dengan hari pendek (kurang dari 12 jam) dikenal sebagai short day plants (Ansal, 2008).

Bintil akar pengikat N dalam tanah pada tanaman polong dikontrol oleh fotopriodisitas yang bekerja melalui daun-daun, karena bakteri pengikat N pada bintil akar memerlukan energi makanan yang dihasilkan oleh daun-daun tanaman untuk melakukan kegiatan mereka. Koordinasi yang maksimum antara tanaman dan pola mikrobia lalu ditingkatkan oleh pengatur fotoperiodisitas (Ansal, 2008).
Fotoperiodisitas (panjang hari) merupakan perbandingan antara lamanya waktu siang dan malam hari Di daerah tropis panjang siang dan malam hampir sama. Makin jauh dari equator (garis lintang besar), perbedaan antara panjang siang dan malam hari juga makin besar (Indramawan, 2009).

Misalnya pada garis 60o LU: Musim panas: siang hari hampir 19 jam, malam hari 5 jam Musim dingin: siang hari hanya 6 jam, malam hari 18 jam (Indramawan, 2009).

Sehubungan dengan fotoperiodisitas tersebut, pada daerah-daerah 4 musim, tanaman dapat dibedakan menjadi (Indramawan, 2009):

  1. Tanaman berhari pendek
  2. Tanaman berhari panjang
  3. Tanaman yang butuh hari pendek untuk mengawali pembungaannya, namun selanjutnya butuh hari panjang untuk melanjutkan proses pembungaan itu.
  4. Tanaman yang dapat berbunga setiap waktu

Aplikasi hari-pendek dengan penyinaran selama 8 jam akan meningkatkan inisiasi bunga pada Rhododendron. Pengaruh hari-pendek direncanakan untuk diaplikasikan pada spesies pohon temperate, mengingat bahwa inisiasi bunga secara normal terjadi pada musim gugur seiring dengan berkurangnya panjang hari. Namun demikian, pembentukan kuncup bunga pada apel lebih berhasil dilakukan pada 14 jam penyinaran dibandingkan dengan 8 jam, yang mengindikasikan bahwa pada tanaman ini panjang hari di musim panas memberikan hasil yang berbeda nyata (Indramawan, 2009).

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PERCOBAAN

 

III.1 Alat

            Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu  silet/cutter, mikroskop, deck glass, dan objek glass.

III.2Bahan

            Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu  biji bayam duri Amaranthus spinosus, biji pacar air Impatiens balsamina, tanah, air, kertas label dan polybag.

III.3 Prosedur percobaan

Adapun prosedur kerja dari praktikum ini adalah:

  1. Memilih dan menyemaikan biji bayam duri Amaranthus spinosus dan biji pacar air Impatiens balsamina pada polybag yang telah diisi dengan tanah, kemudian memelihara tanaman tersebut selama 3 minggu.
  2. Mengamati perkembangan biji setelah satu bulan.
  3. Setelah 1 bulan, tanaman bayam duri Amaranthus spinosus dan pacar air Impatiens balsamina dipelihara selama beberapa hari di bawah kondisi cahaya yang normal.
  4. Meletakkan 2 polybag di tempat yang mendapatkan cahaya pendek (8 jam terang, 16 jam gelap) dan polybag lainnya pada tempat yang mendapatkan cahaya panjang (16 jam terang dan 8 jam gelap).
  5. Setelah diberi perlakuan fotoperiode, mengambil tanaman tersebut kemudian mengiris dan memeriksa dengan menggunakan mikroskop untuk mengetahui ada tidaknya struktur bunga (primodial bunga).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2008,  Pembungaan  Tumbuhan http://pustaka.ut.ac.id/,   diakses  pada

tanggal 14 Maret 2012 pukul 20.53 WITA.

 

Ansal, B.,     2008.       Faktor        Pembatas          dan        Lingkungan        Fisik.

http://akuakulturun,as.blogspot.com/,     diakses     pada   tanggal 14 Maret

2012 pada pukul 20.53 WITA.

 

Dwidjoseputro, D., 1984, Pengantar Fisiologi Tumbuhan, PT Gramedia, Jakarta.

 

Indramawan,         S.,            2009,         Pembungaan                      Angiospermae,

http://sony042.wordpress.com/,    diakses   pada    tanggal       14       Maret

pukul 20.53 WITA.

 

Campbell, N. A, J. B. Reece  and L. G. Mitchell, 2003, Biologi  jilid  2,  Erlangga,

Jakarta.

 

Kimball, J.W., 1992, Biologi Jilid 2, Erlangga, Jakarta.

 

Latunra, A.I., 2012,   Penuntun   Praktikum   Fisiologi  Tumbuhan  II,  Universitas

Hasanuddin, Makassar.

 

Natania, 2008,  Hormon  Tumbuhan,  http://natanhid.blogspot.com/,  diakses pada

tanggal 14 Maret 2012 pukul 20.53 WITA.

 

Salisbury, F.B. dan Cleon W. Ross, 1995,  Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, ITB Press.

Bandung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

nah, gue mau share tugas yang udah bikin gue stress setengah mati di malam hari ini… tugas yang bikin gue ga bisa tidur.. tugas yang membagi perhatian gue antara Jesicca yang muncul di MV baru shinee.. yang bikin stess gue makin nambah……….. nah gue cuma share pic. na dikit jadi kalo masih mau gambart.. kalian googling aja ndiri.. oke.. :D..

Burung Anis Punggung Merah

 

Red-backed Thrush Zoothera erythronota (Sclater, 1859)

Deskripsi

Berukuran sedang (19 – 21 cm). Tubuh bagian atas dari mahkota sampai tunggir merah-kadru; sayap hitam dengan dua garis putih yang lebar; pada muka terdapat noktah putih di depan dan belakang mata; tenggorokan dan dada hitam; perut putih berloreng hitam. Sub-spesies kabaena mirip dengan sub-spesies utama, tetapi bagian mahkota dan punggung hitam.

Penyebaran

Endemik Sulawesi atau hanya dapat ditemukan hidup di Pulau Sulawesi.
terdiri atas 2 sub-spesies, dengan daerah persebaran:

  • erythronota (P. L. Sclater, 1859) – Sulawesi (kecuali semenanjung timur) dan P. Buton.
  • kabaena Robinson-Dean et al., 2002 – P. Kabaena I, Sulawesi Tenggara.

 

Tempat hidup dan Kebiasaan

Burung yang jarang ditemui dan kurang umum di hutan primer, hutan yang telah rusak dan didominasi oleh tegakan bambu dari dataran rendah sampai ketinggian 1000 mdpl. Di Sulawesi dan Buton, lebih menyukai habitat hutan primer, sedangkan di Kabaena dapat di temui pada tipe habitat yang lebih beragam.

 

 

 

Peleng tarsius

            tarsius Peleng (Tarsius pelengensis), atau Pulau Peleng tarsius, adalah malam primata ditemukan di Pulau Peleng , Indonesia . Ini tarsius dapat mengubah adalah kepala 180 derajat, banyak seperti burung hantu , karena matanya tetap dalam rongganya.

 

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Order: Kera
Keluarga: Tarsiidae
Genus: Tarsius
Spesies: T. pelengensis

 

 

 

 

Pygmy tarsier

Para tarsius kerdil (Tarsius pumilus), juga dikenal sebagai tarsier gunung atau tarsier spektral yang lebih rendah, adalah malam primata ditemukan di pusat kota Sulawesi , Indonesia , di daerah dengan rendah vegetatif keanekaragaman spesies dari dataran rendah hutan tropis . Tarsier kerdil diyakini telah punah pada awal abad 20. Tak lama setelah berita itu keluar bahwa tarsius kerdil itu kembali ditemukan pada tahun 2008 spesies mengembangkan kultus berikut di Amerika Serikat. Kelompok ini memiliki pertemuan rutin, t-shirt, anggota dari seluruh dunia dan sebuah kelompok Facebook yang disebut “Tarsier Pygmy Fan Club”, yang didirikan oleh Chip Worthington dan Matt Munoz.

Tarsier kerdil memiliki panjang kepala-tubuh 95-105 mm (sekitar 4 inci), dan berat kurang dari 57 gram (2 ons). T. pumilus memiliki ciri-ciri morfologi yang sangat berbeda, panjang tubuh yang lebih kecil dari lainnya tarsius spesies, dan berat badan yang kecil. Ia juga memiliki telinga yang lebih kecil dari sisa genus, dan bulu adalah cokelat atau abu-abu dominan dengan penggemar atau pewarna merah kecoklatan. Ekornya sangat berambut dan rentang 135-275 mm. Fitur yang paling nyata dari T. pumilus adalah mata yang besar, sekitar 16 mm. Tarsier kerdil juga memiliki kuku pada semua lima digit masing-masing tangan dan di atas dua digit masing-masing kaki. Cakar seperti kuku bantuan dalam kekuatan menggenggam dan juga digunakan sebagai bantuan dalam kebutuhannya akan dukungan vertikal untuk makan dan gerakan.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Order: Kera
Keluarga: Tarsiidae
Genus: Tarsius
Spesies: T. pumilus

Tarsius tarsier

 

Tarsius tarsier (Binatang Hantu/Kera Hantu/Monyet Hantu) adalah suatu jenis primata kecil, memiliki tubuh berwarna coklat kemerahan dengan warna kulit kelabu, bermata besar dengan telinga menghadap ke depan dan memiliki bentuk yang lebar.

Nama Tarsius diambil karena ciri fisik tubuh mereka yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki mereka sehingga mereka dapat melompat sejauh 3 meter (hampir 10 kaki) dari satu pohon ke pohon lainnya. Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya. Setiap tangan dan kaki hewan ini memiliki lima jari yang panjang. Jari-jari ini memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar yang digunakan untuk grooming.

 

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan:

Animalia

Filum:

Chordata

Kelas:

Mammalia

Ordo:

Primata

Famili:

Tarsiidae

Genus:

Tarsius
Erxleben, 1777

Spesies:

T.tarsier

 

Kuskus Beruang

 

Kuskus Beruang adalah anggota dari genus Ailurops. Kuskus Beruang adalah hewan marsupial dan dari keluarga Phalangeridae.

Kuskus Beruang adalah marsupial arboreal yang hidup di kanopi hutan hujan tropis. Hampir tidak diketahui status dan keadaan ekologinya. Meskipun ilmuwan menggolongkan populasi ini kedalam satu spesies, yaitu , A. ursinus, atau melanotis, tetapi pada dasarnya Kuskus Beruang merupakan suatu spesies.[1] Genus ini berbeda, meskipun pihak berwenang memasukan dalam subfamili, Ailuropinae. Kuskus Beruang hanya ditemukan di beberapa pulau di Indonesia, yang merupakan bagian dari Asia, yang sebagian besar marsupial tidak ditemukan di Asia.It is found only on some of the islands of Indonesia, which is a part of Asia, where marsupials are generally not found. Sebuah hipotesis menyatakan bahwa isolasi yang menyebabkan Kuskus Beruang ditemukan di Pulau Sulawesi yang terjadi pada waktu Miosen yang menyebabkan perbedaan dari keluarga Phalangeridae.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Infrakelas: Marsupialia
Ordo: Diprotodontia
Famili: Phalangeridae
Upafamili: Ailuropinae
Flannery, Archer and Maynes, 1987
Genus: Ailurops
Wagler, 1830

 

 

Kera Hitam Sulawesi

Kera Hitam Sulawesi merupakan jenis primata yang mulai langka dan terancam kepunahan. Kera Hitam Sulawesi yang dalam bahasa latin disebut Macaca nigra merupakan satwa endemik Sulawesi Utara.

Kera Hitam Sulawesi (Macaca nigra) mempunyai ciri-ciri sekujur tubuh yang ditumbuhi bulu berwarna hitam kecuali pada daerah punggung dan selangkangan yang berwarna agak terang. Serta daerah seputar pantat yang berwarna kemerahan.

Pada kepala Kera Hitam Sulawesi (Yaki) memiliki jambul. Mukanya tidak berambut dan memiliki moncong yang agak menonjol. Panjang tubuh Kera Hitam Sulawesi dewasa berkisar antara 45 hingga 57 cm, beratnya sekitar 11-15 kg.

 

 

Klasifikasi ilmiah:

Kerajaan: Animalia;

Filum: Chordata;

Kelas: Mammalia;

Ordo: Primata;

Famili: Cercopithecidae;

Genus: Macaca;

Spesies: Macaca nigra


Anoa

Klasifikasi ilmiah:

Kerajaan          : Hewan

Filum               : Chordata

Kelas               : Mamalia

Ordo                : Artiodactyla

Famili              : Bovidae

Upafamili        : Bovinae

Genus              : Bubalus

Spesies            : Bubalus quarlesi

Anoa adalah hewan khas Sulawesi. Ada dua spesies anoa yaitu: Anoa Pegunungan (Bubalus quarlesi) dan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis). Keduanya tinggal dalam hutan yang tidak dijamah manusia. Penampilan mereka mirip dengan rusa dan memiliki berat 150-300 kg. Anak anoa akan dilahirkan sekali setahun.

 

Babirusa

 Klasifikasi ilmiah:

Kerajaan          : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Mammalia

Ordo                : Artiodactyla

Famili              : Suidae

Genus              : Babyrousa
Spesies            : B. babyrussa

Babirusa (Babyrousa babirussa) hanya terdapat di sekitar Sulawesi, Pulau Togian, Malenge, Sula, Buru dan Maluku. Habitat babirusa banyak ditemukan di hutan hujan tropis. Hewan ini gemar melahap buah-buahan dan tumbuhan, seperti mangga, jamur dan dedaunan. Mereka hanya berburu makanan pada malam hari untuk menghindari beberapa binatang buas yang sering menyerang.
Panjang tubuh babirusa sekitar 87 sampai 106 sentimeter. Tinggi babirusa berkisar pada 65-80 sentimeter dan berat tubuhnya bisa mencapai 90 kilogram.

 Celepuk Siau

 

Celepuk siau (Otus siaoensis) merupakan salah satu burung langka dan terancam punah di dunia. Burung celepuk siau adalah burung endemik yang hanya terdapat di sebuah pulau kecil bernama “Siau” di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara. Burung yang masuk dalam kategori keterancaman tertinggi, Kritis (Critically Endangered) ini tidak lagi pernah terlihat kembali sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1866.

Belum banyak data yang bisa menggambarkan ciri, habitat dan persebaran burung ini. Burung celepuk siau mempunyai ukuran tubuh yang relatif kecil, panjangnya sekitar 17 cm. Seperti burung hantu lainnya, terutama celepuk, burung endemik pulau Siau ini mempunyai ukuran kepala dan sayap yang relatif besar.

Burung celepuk siau diyakini hanya terdapat di satu tempat yakni pulau Siau (Koordinat: 2°43’22″N   125°23’36″E) di Kabupaten Sangihe, Propinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Di duga binatang endemik ini mendiami daerah di sekitar Danau Kepetta yang terletak di bagian Selatan Pulau Siau. Selain itu juga di sekitar Gunung Tamata yang berada di bagian tengah Pulau Siau. Meskipun populasi di habitat tersebut hanya berdasarkan pengakuan masyarakat sekitar.

 

Klasifikasi ilmiah:

Kerajaan: Animalia;

Filum: Chordata;

Kelas: Aves;

Ordo: Strigiformes;

Famili: Strigidae;

Genus: Otus;

Spesies: O. Siaoensis

 

Musang Sulawesi

 

Musang sulawesi, Macrogalidia musschenbroekii, merupakan satu-satunya binatang pemakan daging (karnivora) yang endemik untuk Sulawesi.  Binatang ini merupakan jenis mamalia darat yang paling tidak dikenal dari Sulawesi.

Panjang tubuhnya adalah antara 65 sampai 71 cm (tanpa ekor) dan beratnya antara 3,8 hingga 6,1 kg.  Bagian atas tubuhnya berwarna coklat muda hingga coklat tua, sedangkan bagian bawah berkisar dari kuning kecoklatan sampai keputihan.  Bagian dadanya berwarna kemerahan dengan bintik-bintik coklat sempit, sedangkan pada sisi tubuh dan bagian punggung terdapat garis-garis, dan ekornya bergelang-gelang coklat muda hingga coklat tua.

Musang ini terdapat di hutan dataran rendah maupun hutan pegunungan sampai dengan ketinggian 2.600 m.  Binatang ini sering dilaporkan terlihat di hutan primer, walaupun, pernah juga dijumpai di padang rumput dan daerah perkebunan.  Makanannya terutama mamalia kecil dan buah, khususnya buah palem.  Binatang ini sangat mahir memanjat dengan menggunakan kakinya yang lentur serta jari yang berselaput dan cakar yang bisa ditarik sedikit (semi-retractile).  Binatang ini sering hidup menyendiri, meskipun induk dan anak yang masih kecil suka berkeliaran dan makan bersama.

 

Burung Rangkong Julang Sulawesi

 

Burung Rangkong tergabung dalam marga Bucerotidae, dalam bahasa Inggris disebut Horbbill, di Indonesia dikenal juga sebagai Julang, Enggang, dan Kangkareng. Burung Rangkong atau Enggang , tergolong jenis burung di lindungi oleh Peraturan Pemerintah RI (PP No 7 Tahun 1999).

Burung ini terdiri dari 57 spesies yang tersebar di Benua Asia dan Benua Afrika, 14 jenis di antaranya terdapat di Negara Indonesia, dan 3 jenis adalah termasuk Burung endemik Indonesia, alias hanya hidup di habitatnya di Indonesia.

Dari ketiga jenis burung Rangkong endemic Indonesia tersebut, dua jenis merupakan Rangkong endemic Sulawesi, yaitu

(pertama ) Rangkong Sulawesi atau Julang Sulawesi Ekor Hitam (Rhyticeros Cassidix), biasa juga disebut Rangkong Buton, Burung Taon atau Burung Allo.

(kedua) Julang Sulawesi Ekor Putih atau Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus)

Ciri-cirinya Burung Rangkong adalah , memiliki ciri khas berupa paruh yang sangat besar menyerupai tanduk, makanya disebut marga “Bucerotidae” (bahasa Yunani) yang artinya adalah “Tanduk Sapi”. Dimensi ukuran tubuh Rangkong Indonesia sekitar 40 – 150 cm, dengan rberat mencapai 3.6 Kilogram. Warna bulu Rangkong umumnya didominasi oleh warna hitam (bagian badan) dan putih pada bagian ekor. Sedangkan warna bagian leher dan kepala cukup bervariasi, kemudian suara dari kepakan sayap dan suara “calling”, seperti yang dipunyai Rangkong Gading (Buceros vigil) dengan “calling” seperti orang tertawa terbahak-bahak dan dapat terdengar hingga radius 3 Km.

 

 

 

 

Burung Taktarau Iblis

Burung Taktarau Iblis, wow seram banget namanya. Memang burung ini kesannya misterius, mungkin karena sangat sulit dijumpai, karena burung ini suka hidup berisitrahat di sela-selat lumut dan daun paku yang lebat, sehingga sulit ditemukan, meskipun pada siang hari.Bahkan burung ini juga aktif mencari makan pada malam hari dan memiliki kemampuan menyamarkan diri dengan lingkungan sekitarnya. Burung ini termasuk endemik Sulawesi, alias hanya bisa ditemukan di habitatnya di Sulawesi dan berada dalam daftar hewan yang terancam punah dengan status rentan (vulnerable)oleh IUCN Red List of Threatened Species.

Masyarakat lokal lembah Napu di kawasan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah menyebut burung ini Toroku yang berarti Pencabut Mata. Sedangkan dalam bahasa Inggris namanya adalah Eared Nightjar, Heinrich’s Nightjar dan Satanic Eared Nightjar (atau Setan Malam Bertelinga), ngeri tuch. Dan nama latinnya adalah Eurostopodos Diabolicus, yang kalau di Indonesiakan artinya adalah Kejam.,

Ciri-ciri burung ini adalah, ukurannya kurang lebih 27cm, tampilan gelap, dengan pita tenggorokan merah karat pucat. Tanda bintik putih yang tidak menyolok terdapat pad bulu primer ke empat (dihitung dari sayap luar). Ekornya tidak ada warna putihnya.

 

Burung Jalak Tunggir Merah

Burung jalak Tunggir Merah (Scissirostrum dubium ) juga dikenal sebagai Myna Grosbeak, Grosbeak Starling, atau Scissor-billed Starling, adalah spesies jalak dalam keluarga Sturnidae. Ini adalah monotypic dalam Scissirostrum genus. Burung ini populasi habitat aslinya adalah endemik Pulau Sulawesi, Indonesia.

Habitat alami adalah tropis dataran rendah, dan pegunungan kadang-kadang subtropis, kawasan hutan dan lahan basah berhutan ringan.

Spesies ini bersarang di koloni dengan jumlah yang kadang mencapai ratusan pasang. Sarang batang pohon mati .
Makanannya buah, serangga, dan biji-bijian.

Daerah sebaran burung ini adalah di Sulawesi termasuk Bangka, Lembeh, Butung, Togian Apakah., Peling Apakah, dan. Banggai.

 

Burung Kipasan Sulawesi

Burung Kipasan Sulawesi (Rhipidura teysmann), adalah spesies burung dalam keluarga Rhipiduridae. Burung ini adalah burung dengan populasi habitatnya endemik Pulau Sulawesi, Indonesia, alias hanya dapat ditemukan di tempat asalnya yang asli yaitu di Pulau Sulawesi.
Burung ini juga biasa disebut dengan nama, The Rusty-bellied Rhipidura teysmanni, Rusty-bellied Fantail, Kipasan Sulawesi Fantail

 

Burung Cikarak Sulawesi

Burung Cikarak Sulawesi (Myza Celebensis) termasuk dalam spesies keluarga burung Meliphagidae. Burung ini populasi habitatnya adalah endemik Sulawesi, alias hanya bisa ditemukan di Pulau Sulawesi. Kata Celebensis, diambil dari kata Celebes, yakni nama Pulau Celebes atau Pulau Sulawesi. Burung ini juga dengan nama Dark-Myza Celebensis atau Dark-Eared Myza

                                            Burung Anisbentet Sangihe

 
Burung Anisbentet Sangihe (Colluricincla sanghirensis), adalah spesies burung dari keluarga Colluricinclidae., dalam Bahasa Inggris burung ini disebut dengan nama Sangihe Shrike-thrush.
Burung ini diketahui merupakan endemik Sulawesi, atau hanya bisa ditemukan di habitat aslinya di Pulau Sulawesi, Indonesia, tepatnya di Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara. Dimana habitat populasinya burung ini sudah menurun dalam cakupan dan kualitas populasi semakin kecil dan terus berkurang jumlahnya . Karena situasi populasi yang mengkhawatirkan itu maka burung ini diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah.
Ciri-ciri burung ini adalah, ukurannya menengah sekitar 17cm, warna Coklat Olive pada bagian atas, coklat tua pada bagian bahu dan bawah punggung. Pada bagian bawahnya lagi coklat kepucatan, kekaratan pada perut. Kaki hitam. Coklat zaitun pada sekitar kuning tenggorokan. Suaranya keras, nadanya seperti lagu dengan banyak pengulangan dan lembut. Populasinya mungkin akan sangat rendah jumlahnya (mungkin kurang dari 100 burung) mengingat daerah kecil habitat yang tersisa,dan kebanyakan dijumpai di Gunung Sahendaruman dan Gunung Sahengbalira.

 

Burung Maleo

Burung Maleo yang dalam nama ilmiahnya Macrocephalon maleo adalah sejenis burung yang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm. Burung Maleo adalah satwa endemik Sulawesi, artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi, Indonesia. Selain langka, burung ini ternyata unik karena anti poligami.

Burung Maleo (Macrocephalon maleo) memiliki bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecoklatan, kaki abu-abu, paruh jingga dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina serupa. Biasanya betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan.

Populasi terbanyaknya kini tinggal di Sulawesi Tengah. Salah satunya adalah di cagar alam Saluki, Donggala, Sulawesi Tengah. Di wilayah Taman Nasional Lore Lindu ini, populasinya ditaksir tinggal 320 ekor. Karena populasinya yang kian sedikit, burung unik dan langka ini dilindungi dari kepunahan.

 

 

Klasifikasi ilmiah;

Kerajaan: Vertebrata;

Filum: Chordata;

Kelas: Aves (Burung);

Ordo: Galliformes;

Famili: Megapodiidae;

Genus: Macrocephalon;

Spesies: Macrocephalon maleo

 

Saat itu gue lagi surfing #ceilah..bahasanya# di dunia perpesbukan, biasa anak gaoel jaman sekarang main pesbukan. Nah, di saat gue lagi melanglang buana (??) di area pesbuk sambil baca-baca status 4L@y para ababil #emang admin ga ababil |ah..readers nyela aja neh|*ditimpuk readers# gue, tertarik neh sama status seseorang yang saya kenal, bukan status yang bikin gue tertarik persetan dengan status 4L@y yang dia buat, yang bikin gue tertarik itu komentar-komentar yang ada di status itu, bunyinya gini :

A (pendatang): “aku mau ngirim gambar, minta e-mail yahoo kamu dong”

B(yg punya akun): “yah, maaf aku ga punya e-mail di yahoo”

A : “Ya, udah e-mail kamu emang apaan??”

B: “Ia, aku ga punya e-mail yahoo saya punyanya e-mail facebook”

A: “ya…alamatnya apaan”

B: “xxxxxxxx@yahoo.com itu e-mail aku

Gue: #menganga lebar baca semua komentar itu

Gue harap aja si A, bisa maklum dengan si B.. Saat itu yang bisa saya lakukan hanya berdoa agar si A di beri kesabaran dan keselamatan gara-gara ngakak sambil guling-guling di rel kereta api. Sumpah, kayak si B itu bukan hanya ababil yang  4L@Y, tapi kayaknya dia salah gaul, kasian si B =.=”

Ngomongin soal e-mail, ada lagi neh.. tapi yang ini gue dapet pas lagi baca majalah #lupa majalahnya apa# gini bunyinya :

Andi : “eh, kerjaan kantor loe kirim aja ya lewat e-mail”

Dedi: “maaf, ya beroww gue belom punya e-mail, jadi gimana??”

Andi: “darimana aja loe… hari gini masih belum punya e-mail… hellloowwww#ala ababil# ya, udah ntar gue bikinin”

Dedi: “wah, thanks berowww, bikin e-mailnya keburu ngga???”

Andi: “maksud lo??”

Dedi: “Ia, bikin e-mailnya keburu ngga ini kan udah malam kantornya pasti udah tutup, jadi besok aja bikin e-mailnya”

Andi:~!@#$%^&*()_+)(*&^%$#@!@#$%^&*(*&^%$#$%^&*(

Apapun, pas gue udah baca itu gue Cuma berdoa mudah-mudahan kedepan ga ada korban pembunuhan atas nama Dedi ato korban bunuh diri yang namanya Andi. Ayo kita berdoa #menundukkan kepala# selesai.

Selain itu, ternyata e-mail juga bisa di pake buat bahan ngegombal

Cowo: “neng, punya e-mail ga??”

Cewe: “punya bang, buat apa ya??”

Cowo: “buat ngirim hati aku ke hatinya eneng”

Cewe: “wah, bang jangan ngirim SPAM dong, bahaya tau!!!”

Cowo: #melongo “ya..Tuhan… Ambil saya!!!!!!”

Apapun yang terjadi, berdoa saja mudah-mudahan cowo itu ngga galau gara-gara salah gombal  dan ngga kapok ngegombal lagi… hahahahahahahahahah.

Nah, bisa kita liatkan kalo dari sebuah e-mail bisa melahirkan banyak inspirasi dan ekspresi. Jangan, Kapok buat ber “e-mail” ria. Ini, pengalaman gue soal e-mail. Gimana cerita loe…. :D

Kurva Sigmoid Pertumbuhan

Posted: March 9, 2012 in knowledge

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERTUMBUHAN TANAMAN II

 

PERCOBAAN II

KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN

 

NAMA                        : FINNY ALVIONITA

NIM                            : H411 10 276

KELOMPOK             : IV (EMPAT)

HARI/TANGGAL     : SELASA/06 MARET 2010

ASISTEN                   : ST. HATIJAH

 

 

 

 

 

 

 

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2012

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Proses pertumbuhan merupakan hal lazim bagi setiap tumbuhan. Dalam proses pertumbuhan terjadi pertambahan volume yang signifikan. Seiring berjalannya waktu pertumbuhan suatu tanaman terus bertambah. Proses tumbuh sendiri dapat dilihat pada selang waktu tertentu. Di mana setiap pertumbuhan tanaman akan menunjukkan suatu perubahan dan dapat dinyatakan dalam bentuk kurva/diagram pertumbuhan (Latunra, 2012).

Besarnya pertumbuhan per satuan waktu disebut laju tumbuh. Laju tumbuh suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju tumbuhan digambarkan dengan suatu grafik, dengan laju tumbuh pada koordinat dan waktu pada absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk S atau kurva sigmoid. Kurva sigmoid pertumbuhan ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya ataupun sel-selnya (Latunra, 2012).

Melalui percobaan ini, akan dilihat bagaimana laju pertumbuhan suatu tanaman yang akan di gambar pada kurva sigmoid

I.2 Tujuan Percobaan

Mengamati laju tumbuh daun sejak dari embrio dalam biji hingga daun mencapai ukuran tetap pada tanaman kacang merah Phaseolus vulgaris.

 

 

I.3  Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilakukan pada hari Selasa, 06 Maret 2012, pukul 14.30 -17.30 WITA, bertempat di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengamatan dilakukan selama 14 hari di kebun Canopy, pencatatan pertumbuhan tanaman dilakukan pada hari 3, 5, 7, 10, dan 14.

 


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat dibalikkan dalam ukuran pada sistem biologi. Secara umum pertumbuhan berarti pertambahan ukuran karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertumbuhan itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel dan pertambahan jumlah sel. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, sedangkan pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel (Kaufman, dkk., 1975).

Banyak faktor yang mepengaruhi pertumbuhan di antaranya adalah faktor genetik untuk internal dan faktor eksternal terdiri dari cahaya, kelembapan, suhu, air, dan hormon. Untuk proses perkecambahan banyak di pengaruhi oleh faktor cahaya dan hormon, walaupun faktor yang lain ikut mempengaruhi. Menurut leteratur perkecambahan di pengaruhi oleh hormon auxin, jika melakukan perkecambahan di tempat yang gelap maka akan tumbuh lebih cepat namun bengkok, hal itu disebabkan karena hormon auxin sangat peka terhadap cahaya, jika pertumbuhannya kurang merata. Sedangkan di tempat yang perkecambahan akan terjadi relatif lebih lama, hal itu juga di sebabkan pengaruh hormon auxin yang aktif secara merata ketika terkena cahaya. Sehingga di hasilkan tumbuhan yang normal atau lurus menjulur ke atas (Soerga, 2009).

Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, organel-organel dan bahan-bahan penyusun sel yang lain. Sedang pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel. Pertumbuhan akar tanaman merupakan hasil dari pertumbuhan jumlah sel dan pertambahan volume sel secara bersama-sama (Soerga, 2009).

Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas terhadap lingkungan dan koordinasi respons sangat jelas terlihat. Tumbuhan dapat mengindera gravitasi dan arah cahaya dan menanggapi stimulus-stimulus ini dengan cara yang kelihatannya sangat wajar bagi kita. Seleksi alam lebih menyukai mekanisme respons tumbuhan yang meningkatkan keberhasilan reproduktif, namun ini mengimplikasikan tidak adanya perencanaan yang disengaja pada bagian dari tumbuhan tersebut (Campbell, 2002).

Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, organel-organel dan bahan-bahan penyusun sel yang lain. Sedang pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel. Pertumbuhan akar tanaman merupakan hasil dari pertumbuhan jumlah sel dan pertambahan volume sel secara bersama-sama (Soerga, 2009).

Pada batang yang sedang tumbuh, daerah pembelahan sel  batang lebih jauh letaknya dari ujung daripada daerah pembelahan akar, terletak beberapa sentimeter dibawah ujung (tunas). Sedangkan pertambahan panjang tiap lokus pada akar tidak diketahui pertambahan panjang terbesar dikarenakan kecambah mati (Salisbury dan Ross, 1995).

Teorinya, semua ciri pertumbuhan bisa diukur, tapi ada dua macam pengukuran yang lazim digunakan untuk mengukur pertambahan volume atau massa. Yang paling umum, pertumbuhan berarti pertambahan ukuran. Karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertambahan itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pada banyak kajian, pertumbuhan perlu diukur. Pertambahan volume (ukuran) sering ditentukan denagn cara mengukur perbesaran ke satu atau dua arah, seperti panjang (misalnya, tinggi batang) atau luas (misalnya, diameter batang), atau luas (misalnya, luas daun). Pengukuran volume, misalnya dengan cara pemindahan air, bersifat tidak merusak, sehingga tumbuhan yang sama dapat diukur berulang-ulang pada waktu yang berbeda (Salisbury dan Ross, 1995).

Pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik, dalam waktu tertentu maka akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S). Bentuk kurva sigmoid untuk semua tanaman kurang lebih tetap, tetapi penyimpangan dapat terjadi sebagai akibat variasi-variasi di dalam lingkungan. Ukuran akhir, rupa dan bentuk tumbuhan ditentukan oleh kombinasi pengaruh faktor keturunan dan lingkungan (Tjitrosomo, 1999).

Kurva sigmoid yaitu pertumbuhan cepat pada fase vegetatif sampai titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan akhirnya menurun pada fase senesen (Anonim, 2008).

Beberapa cara tersedia dalam pendekatan pada sistem seperti sistem tanaman dengan produk biomassa yang meningkat secara sigmoid dengan waktu untuk mendapatkan faktor-faktor dan proses hipotetik. Menerapkan fenomena yang sudah dikenal cukup baik kepada suatu sistem yang sedang dipelajari merupakan suatu pendekatan yang umum dilakukan. Pada suatu waktu, distribusi zat dalam setiap tempat dalam ruangan akan menunjukkan hubungan yang berbentuk sigmoid (Sitompul dan Guritno, 1995)

Laju pertumbuhan relative (relative growth rate) menunjukkan peningkatan berat kering dalam suatu interval waktu dalam hubungannya dengan berat asal. Dalam situasi praktis, rata-rata pertumbuhan laju relative dihitung dari pengukuran yang di ambil pada waktu t1 dan t2 (Susilo, 1991)

Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Pada fase logaritmik, ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Salisbury dan Ross, 1992).

Pertumbuhan kacang merah (Phaseolus vulgaris) jika digambarkan dalam grafik akan membentuk kurva sigmoid (bentuk S). Kurva ini menggambarkan baik pertumbuhan tinggi tanaman maupun jumlah daun. Keduanya dalam bentuk sigmoid. Hal ini sesuai dengan literatur Tjitrosomo (1991) yang menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-berangsur menjadi lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik dalam waktu tertentu akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S) (Solin, 2009).

 

 

 

 

 

 

 

Pengukuran daun tanaman mulai dari waktu embrio dengan menggunakan kurva sigmoid juga memiliki hubungan erat dengan perkecambahan biji tersebut yang otomatis juga dipengaruhi oleh waktu dormansi karena periode dormansi juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan banyak biji. Ada bukti bahwa pencegah kimia terdapat di dalam biji ketika terbentuk. Pencegah ini lambat laun dipecah pada suhu rendah sampai tidak lagi memadai untuk menghalangi perkecambahan ketika kondisi lainnya menjadi baik. Waktu dormansi berakhir umumnya didasarkan atas suatu ukuran yang bersifat kuantitatif. Untuk tunas dan biji dormansi dinyatakan berhasil dipecahkan jika 50 % atau lebih dari populasi biji tersebut telah berkecambah atau 50% dari tunas yang diuji telah menunjukkan pertumbuhan. Bagi banyak tumbuhan angiospermae di gurun pasir mempunyai pencegah yang telah terkikis oleh air di dalam tanah. Dalam proses ini lebih banyak air diperlukan daripada yang harus ada untuk perkecambahan itu sendiri. (Kimball, 1992).

Pada fase logaritmik ukuran (V) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan organisme, semakin besar organisme, semakin cepat pula ia tumbuh. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum selama beberapa waktu lamanya. Tidak begitu jelas mengapa laju pertumbuhan pada fase ini harus konstan, dna bukan sebanding dengan peningkatan ukuran organisme. Tapi, pada batang tak bercabang, fase linier tersebut disebabkan hanya oleh aktivitas yang konstan dari meristem apikalnya. Fase penuaan dicirikan oleh pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Salisbury dan Ross, 1995).

 

 

 

 

 

BAB III

BAB III

METODE PERCOBAAN

 

III.1 Alat

            Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu  penggaris, pisau dan nampan

III.2Bahan

            Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu  kacang merah Phaseolus vulgaris, air, tanah, kertas grafik, dan polybag.

III.3 Prosedur percobaan

Adapun prosedur kerja dari praktikum ini adalah:

  1. Merendam biji kacang merah selama 2 jam di dalam nampan yang berisi air.
  2. Memilih biji yang baik sebanyak 28 biji.
  3. Setalah 2 jam merendam, mengupas 3 biji dan membuka kotiledonnya, mengukur panjang embrionya dengan penggaris kemudian menghitung nilai rata-ratanya.
  4. Menanam 25 biji dalam polybag, 5 biji dalam setiap polybag, menyiram dengan air secukupnya dan memelihara selama 2 minggu.
  5. Mengadakan pengamatan sebagai berikut :

a)        Mengukur panjang daun pertamanya pada umur 3, 5, 7, 10, dan 14 hari.

b)        Mengukur daun pada umur 3dan 5 hari yang dilakukan dengan menggali tanah, pengukuran dilakukan tanpa memotong kecambah.

c)        Menentukan rata-rata panjang daun dari tiap-tiap seri pengukuran,

d)       Membuat grafik dengan panjang rata-rata daun dan waktu pengukuran sebagai absisa.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2008,  Kurva Sigmoid, http://www.lapanrs.com/, diakses  pada  tanggal 6

Maret 2012 pukul 18.30 WITA.

 

Campbell, N. A, J. B. Reece  and L. G. Mitchell, 2002, Biologi  jilid  2,  Erlangga,

Jakarta.

 

Kaufman, P. B.,  dkk.,  1975,   Laboratory    Experiment    in    Plant   Physiology,

Macmillan Publishing Co., Inc.  New York.

 

Kimball, J.W., 1992, Biologi Jilid 2, Erlangga, Jakarta.

 

Latunra, A.I., 2012,   Penuntun   Praktikum   Fisiologi  Tumbuhan  II,  Universitas

Hasanuddin, Makassar.

 

Salisbury, F.B. dan Cleon W. Ross, 1995,  Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, ITB Press.

Bandung.

 

Soerga, N.,  2009,  Pola  Pertumbuhan  Tanaman,  http://soearga.wordpress.com/.

diakses pada tanggal 6 Maret 2012 18.30 WITA.

 

Solin, M.,  2009,  Kurva Sigmoid, http://nidawafiqahnabila.blogspot.com/, dikases

pada tanggal 6 Maret 2012 18.30 WITA.

 

Susilo, W., 1991, Fisiologi Tanaman Budidaya, Universitas Indonesia, Jakarta.

 

Sitompul, S.M dan B. Guritno, 1995, Analisis Pertumbuhan Tanaman, Gadjah

Mada University Press, Yogyakarta.

 

Tjitrosomo, G., 1999, Botani umum 2, Angkasa, Bandung.